SLEMAN – Sidang perkara penipuan dengan terdakwa Ir Arief Budioni di Pengadilan Negeri (PN) Sleman berlangsung tegang, kemarin (29/6). Itu karena kesaksian yang disampaikan saksi Dadan Jaya Kartika dengan terdakwa bertolak belakang.
Sejumlah pengunjung sidang sempat bertepuk tangan dan bersorak ketika mendengarkan sanggahan atau bantahan yang disampaikan oleh terdakwa Arief dan tim penasihat hukumnya.
Dadan mengatakan pada 2012, dia dan Muhammad Suryo menjalin kerja sama bisnis pembangunan hotel/condotel di Kemetiran, Gedongtengen, Jogja dengan terdakwa Arief Budiono dan adik Arief yaitu Andi Kurnianto.
Dalam perjanjian itu disebutkan ada pembagian kolateral antar para pihak yang disepakati di depan notaries Agus Hanafi. “Sebelum ada perjanjian kerjasama, Suryo sudah melakukan perikatan dengan ahli waris pemilik tanah di Kemetiran pada 11 Agustus 2012 sebesar Rp 2,7 miliar. Total harga tanah sebesar Rp 45 miliar,” kata Dadan.
Selain itu, Arief Budiono telah menjaminkan sertifikat milik Suryo yang diatasnya terdapat rumah dan hotel. “Sertifikat itu sebagai kolateral,” tambah Dadan.
Namun, keterangan Dadan tersebut dibantah Arief. Menurutnya, dalam akta perjanjian kerjasama (PK) Nomor 9 Tahun 2012 yang dibuat di depan notaris Agus Hanafi tidak ada pasal yang menyebutkan adanya kolateral.
Arief pun menunjukkan barang bukti berupa akta PK Nomor 9 kepada majelis hakim. “Yang melakukan pelunasan saya bukan Suryo,” bantah Arief.
Mengenai Suryo sebagai pemilik sertifikat, Arief pun membantahnya. Menurutnya, sertifikat milik Suryo yang diserahkan kepadanya bukan untuk jaminan di bank. Tetapi, karena Suryo meminjam uang kepada dirinya. “Sertifikat milik Suryo bukan bagian dari kolateral. Sertifikatnya masih ada pada saya. Karena Suryo belum mengembalikan uang saya maka sertifikat juga belum saya serahkan kepadanya,” beber Arief.
Dadan menambahkan, dalam perjalanannya Arief mengingkari perjanjian tersebut. Hingga suatu ketika Suryo memutuskan melaporkan ke Polda DIJ. Setelah dilaporkan, antara Suryo dengan Arief terjadi perdamaian yang dilakukan disebuah ruangan di Polda DIJ.
Dalam perjanjian itu disepakati, Suryo akan memberikan kompensasi kepada Arief sebesa Rp 56,3 miliar. Sementara Arief menyerahkan sertifikat tanah di Kemetiran, Gedongtengen, Jogja kepada Suryo, mobil, dan sertifikat tanah atas nama Suryo yang diatasnya ada hotel dan rumah. “Karena Arief tidak memenuhi perjanjian tersebut, Suryo kembali melaporkann Arief ke Polda DIJ,” jelas Dadan.
Keterangan Dadan tersebut langsung dibantah Arief. Menurunya, kompensasi Rp 56,3 miliar tersebut hanya untuk sertifikat tanah di Kemetiran bukan sertifikat tanah yang lain dan mobil. “Sebaliknya, Suryo lah yang mengingkari perjanjian kerja sama tersebut. Dia telah menjual tanah di Kemetiran kepada PT JOP senilai Rp 120 miliar,” jelasnya.
Dalam PT JOP tersebut juga ada nama Suryo dan saksi Dadan. “Perjanjian kerasama masih mengikat kok tapi mengapa Suryo bisa menjual tanah Kemetiran ke PT JOP,” beber Arief. (mar/din/ong)

Breaking News