GUNAWAN/RADAR JOGJA
BERSYUKUR: Salah satu korban selamat, Kasiyem, warga Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, dirawat di RSUD Wonosari, kemarin (17/6).

Tangan Ditarik Anak, Kaki Sempat Tertimpa Karang

Musibah ambrolnya tebing karang di Pantai Sadranan, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh korban. Salah satu korban selamat, Kasiyem, warga Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, mengisahkan cerita duka padusan menjelang Ramadan itu.
GUNAWAN, Gunungkidul
Saat ditemui di Ruang Anggrek RSUD Wonosari, Kasiyem terbaring dengan alat bantu pernapasan dan infus. Ditemani keluarga besarnya, dia terlihat mulai bersahabat dengan keadaan yang baru saja dialami.
Kata Kasiyem, ketika dalam perjalanan menuju Pantai Sadranan, perasaannya sudah tidak menentu. Pikirannya kacau entah apa penyebabnya. Karena itu, ketika sampai di pantai itu dia lebih memilih berteduh di bawah tebing karang.
Sembari mengawasi kerabat yang tengah bermain air, Kasiyem juga menjaga barang bawaan. Dia tidak menyadari ternyata bahaya besar tengah mengancam. Saat itu, posisi Kasiyem hanya bebarapa meter dari tebing karang.
“Saya duduk diliputi perasaan cemas. Sambil mematau situasi,” kata Kasiyem saat ditemui di ruang perawatan. Ia melanjutkan, pada saat itu sempat melihat aktivitas di sekeliling di bawah tebing.
Dia pun menggambarkan posisi sejumlah orang yang duduk berteduh di bawah tebing. Sebelah kanan terlihat pasangan muda-mudi tengah santai berbicara. Di antaranya nampak beraktivitas dan sendau gurau. Posisi belakangnya, ada pedagang yang berjualan dan sedang menawarkan dagangan.
“Ketika saya di dekat tebing, perasaan khawatir terus muncul. Tapi langsung saya tepis sendiri,” ucapnya perlahan. Kasiyem mencoba menenangkan diri dengan menganggap perasaan tidak enak tersebut, lantaran jalan naik turun berliku menuju pantai yang cukup ekstrem.
Namun begitu, perasaan cemas masih saja menggelayuti ibu kelahiran 15 Mei 1964 tersebut. “Untuk menghilangkan penat, saya menyaksikan anak-anak bermain di pantai,” terangnya.
Menurut Kasiyem, cukup lama ia berteduh di lokasi kejadian, kurang lebih satu jam lebih. Tiba-tiba, dia mendengar suara berderit dari arah belakang. Tak lama berselang disusul suara gemuruh makin kencang. “Tangan langsung ditarik anak saya. Saya terjatuh bersamaan dengan suara gemuruh,” terangnya.
Dalam situasi kepanikan, Kasiyem masih sadar. Dia berusaha merayap menjauh dari kepulan asap tebal. Hanya saja, perjuangan itu terhenti lantaran kaki kanan tersangkut sesuatu. Dan benar, ternyata kakinya tertindih batu karang. Kasiyem sekuat tenaga membebaskan diri dari jepitan karang.
“Saya keruk dengan menggunakan tangan. Tapi begitu melihat bagian kaki berdarah, tidak kuat dan saya langsung jatuh pingsan,” tuturnya.
Namun, peristiwa mengerikan itu sudah berlalu. Kini, ditunggui kerabatnya ia sudah bisa bernapas lega. Dia menganggap kejadian itu adalah ujian yang harus disyukuri. Ia sekarang hanya tinggal menunggu kesembuhan.
“Niat awal kami ingin padusan menjelang Ramadan, tapi ternyata kejadiannya seperti ini. Tapi, kami syukuri karena sekeluarga selamat,” ucapnya lirih. (laz/ong)

Boks