SEWON – Kasus pencurian batu nisan di komplek makam seniman kondang Bagong Kussudiardjo pada 10 April lalu ternyata menyimpan cerita cukup menarik. Sang pencuri menyerahkan diri karena tidak dapat buang air besar selama tiga hari usai mencuri batu nisan di komplek makam yang terletak di Dusun Sembung, Bangunjiwo, Kasihan tersebut.Kisah ini diceritakan Djaduk Ferianto, salah satu putra Bagong di sela-sela berburu batu akik di Pameran Batu Permata Nusantara di Piramid Cafe Jalan Parangtritis Senin (1/6) lalu. “Ora iso BAB njuk jaluk ngapuro. Percaya atau tidak pengakuannya ya seperti itu,” tutur Djaduk ketika disinggung keber-adaan pelaku pencurian batu di kompleks makam orangtuanya.Menurutnya, pelaku pencurian ada dua orang. Tapi, hanya satu pelaku yang datang menemui Butet Kartaredjasa, adik Djaduk untuk meminta maaf. Pelaku datang ke kediaman Butet dua hari pasca munculnya pemberitaan di media massa. Satu pelaku inilah yang tidak dapat buang air besar. “Gur cah kidul wetan deso kok,” ucap Djaduk menyebutkan asal-usul para pelaku ini.Djaduk beserta saudara-saudara-nya memaafkan ulah kedua pemuda ini. Keluarga Bagong juga tak beren-cana memejahijaukan kedua pelaku ini.”Kasihan,” ucapnya.Berdasar pengakuan pelaku, batu yang mereka curi akan dijadikan sebagai akik. Mereka tak berencana untuk menjualnya. Dengan penyerahan diri pelaku ini, Djaduk mengucapkan rasa terima kasih kepada media massa yang memberitakan perihal pencurian batu di kompleks makam orangtuanya. Sebab, melalui pemberitaan ini para pelaku mengetahui bahwa mereka telah mencuri batu nisan di kompleks makam Bagong Kussudiardjo. “Saat muncul di media massa seperti di Radar Jogja saya banyak dapat telpon dari temen-temen,” kenangnya. Sekadar mengingatkan, kompleks makam Bagong Kussudiardjo disatroni pencuri. Aksi pencurian ini diketahui 10 April lalu. Kala itu Djaduk Ferianto langsung bergegas pergi ke kompleks makam orangtuanya setelah mendengar perihal pencurian batu hias di komplek makam seniman Imogiri.Kekhawatiran Djaduk ini ternyata benar adanya. Saat dicek, pintu gerbang komplek makam sudah terbuka. Disamping itu, ada bekas congkelan di batu nisan jenis Pancawarna di kompleks makam tersebut. Bahkan, papan nama yang tertempel di makam Soetina, isteri Bagong pecah menjadi dua bagian. Beberapa hari kemudian, kejadian ini dilaporkan ke Polsek Kasihan. (zam/din/ong)

Breaking News