Hendri Utomo/Radar Jogja

Ingin Bahagiakan Ortu dengan Menjadi Guru

Meraih nilai tertinggi se-DIJ dalam Ujian Nasional (Unas) tingkat SMA/SMK tak mengubah pribadi seorang Zulfa Ainun Naim, 17, siswa Jurusan Akutansi SMKN 1 Pengasih, Kulonprogo. Ia tetap semangat dan tidak mengendurkan cita-citanya untuk menjadi seorang guru. Seperti apa sosok gadis yang berasal dari keluarga pas-pasan ini?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
“BAPAK ingin sekali saya menjadi guru, karena bapak dulu juga ingin menjadi guru tapi tidak kesampaian,” ujar putri semata wayang pasangan Parsimin, 54, dan Muntamah, 40, warga Pedukuhan Gunung Gondang, Margosari, Pengasih, kemarin (18/5).
Gadis kelahiran 18 November 1997 ini berhasil mendapatkan nilai tertinggi se-DIJ dalam Unas 2015. Ia meraih nilai sempurna (100) untuk mata pelajaran Matematika dan Akutansi (kejuruan). Nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia juga di atas rata-rata (94), dan nilai 92 untuk mata pelajara Bahasa Inggris.
Gadis berjilbab ini lahir dari keluarga pas-pasan. Bapaknya sebagai seorang buruh toko bangunan di Wates, sementara ibunya berjualan makanan di kantin SMAN 1 Pengasih. “Setiap hari saya berangkat sekolah diantar bapak, pulangnya naik angkot. Kalau pulang gasik, kadang saya menyusul ibu di kantin. Ya bantu-bantu sebisanya, mencuci piring atau pekerjaan lain,” katanya.
Disinggung apakah ada kiat khusus sehingga bisa meraih nilai sempurna untuk mata pelajaran Matematika, Zulfa mengaku nilai sempurna yang diraihnya hanya bermodal ketekunannya dalam mengerjakan latihan soal. “Saya tidak les khusus Matematika. Orang tua saya tidak punya uang lebih untuk memberikan les tambahan. Saya hanya rajin mengerjakan soal latihan, dan itu saya lakukan sendiri. Kalau ada yang tidak bisa, tanya teman atau guru,” terangnya.
Jika ada perjuangan yang ekstra dilakukan Zulfa adalah kebiasaannya bangun mruput. Sebuah tradisi yang sudah biasa dikerjakan sejak kecil. “Menurut saya, belajar paling nyaman itu pagi. Biasanya saya belajar justru selepas salat Subuh hingga menjelang berangkat sekolah. Kalau malam saya tidak kuat mengantuk, paling lepas Isya sampai pukul 20.00 untuk mengulas materi yang diterima di sekolah,” ungkapnya.
Zulfa memang memiliki pestasi yang baik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia sudah langganan ranking 1 sejak duduk di SDN 2 Pengasih dan SMPN 1 Pengasih. Justru saat Unas kemarin, Zulfa hanya berani menargetkan lulus, kendati akhirnya ia justru mampu meraih nilai tertinggi se DIJ. Ia masih merasa hasil capaiannya layaknya mimpi.
“Saya sempat grogi saat mengerjakan Unas dengan sistem on line, karena saat try out sempat menemui kendala yakni login komputer yang error. Ya, saya sempat tidak yakin, termasuk saat mengejakan soal Matematika, saya bahkan sempat ragu dengan satu soal yang saya kerjakan. Tapi ternyata kok bisa dapat nilai 100, ya alhamdulillah sekali,” ucapnya.
Unas sudah berlalu, kini Zulfa tengah fokus masuk jurusan Pendidikan Akutansi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tentu saja untuk memuluskan cita-citanya menjadi seorang guru. “Ya, tujuan saya tetap fokus satu, ingin menjadi guru dan membahagiakan orang tua saya, khususnya bapak,” katanya.
Waka Humas dan Hubungan Industri SMK N 1 Pengasih Supriyanto mengaku bangga dengan prestasi yang diraih Zulfa. “Tentu kami memberikan reward untuk Zulfa dan siswa beprestasi lainnya. Kami juga memberikan informasi bagi siswa yang ingin meneruskan kuliah atau mencari kerja. Kami sediakan waktu Senin dan Kamis bagi siswa untuk menjaring informasi dengan datang ke sekolah,” terangnya.
Supriyanto menambahkan, SMKN 1 Pengasih memiliki beberapa jurusan, antara lain, Akutansi, Administrasi Perkantoran, Pemasaran, Multimedia, Tata Busana dan Akomodasi Perhotelan. “Total peserta Unas tahun ini 386 siswa, semua lulus,” ungkapnya. (laz/ong)

Boks