Kasih foto juru kunci merapi Ki Lurah Surakso Sihono
Tewasnya Erri Yunanto, 21, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang jatuh ke kawah Merapi masih menjadi perbincangan publik. Di mata Juru Kunci Merapi Ki Lurah Surakso Sihono, tidak ada aroma mistis atas ulah gunung api teraktif di dunia ini.
Terkait musibah yang menimpa Erri, pria yang akrab disapa Pak Asih itu tak banyak berkomentar. Dia hanya menyiratkan bahwa aksi mahasiswa jurusan teknologi industri semester 3 itu tergolong nekat.
“Saya hanya lihat (foto selfie) dari gambar. Tidak tahu kebenarannya. Tapi, itu memang berbahaya,” ungkap putera almarhum Mbah Marijan kemarin (19/5).
Menurut Asih, lokasi yang dipakai untuk berfoto korban sangat berbahaya. Hanya berupa onggokan batu sisa Puncak Garuda yang bagian lainnya telah ambrol saat erupsi 2010. Batu itu dikelilingi jurang dan kawah.
Asih menyebut kawasan puncak sebagai daerah gawat yang penuh risiko. Sedikit lengah, bukan tidak mungkin pendaki bisa terpeleset ke jurang. “Apalagi bagi pendaki yang belum pernah mendaki puncak, sehingga tak paham lokasi,” ungkapnya.
Lepas dari mitos dan kepercayaan seputar fenomena alam Merapi, Asih mengingatkan adanya etika yang harus dipahami dan dijalani setiap pendaki gunung. Tutur kata yang baik, tingkah laku sopan, dan menghindari perbuatan negatif. Itu syarat pokok untuk kulonuwun di tempat asing.
Bahkan waktu mulai mendaki pun ada saatnya. Tidak asal mendaki sesuka hati. Saat Mbah Marijan masih menjadi juru kunci, setiap pendaki selalu diingatkan tentang kapan waktu terbaik memulai pendakian. Istilahnya, ada petung-nya. Tak jarang, pendaki harus menunggu berjam-jam untuk memperoleh lampu hijau. “Istilahnya empan papan,” jelas Asih.
Penuturan Mbah Marijan bukan tanpa alasan. Itu dimaknai agar para pendaki memiliki kesiapan lahir dan batin sebelum memulai aksi. Dan, tak memaksakan diri untuk menuju puncak. “Kalau capek, ya, harus istirahat. Jangan ngoyo,” ingatnya.
Filosofi itu, lanjut Asih, seperti pesan para orang tua kepada anaknya agar tidak keluar malam atau waktu Magrib, agar tak terkena sawan. Itu diartikan, anak-anak diimbau tetap berada di rumah dan mengisi waktu untuk belajar atau berdoa. (yog/laz/ong)

Breaking News