GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
TINGALAN JUMENENGAN: Rayi dalem KGPH Hadiwinoto (kiri atas) menghadiri acara peringatan 27 tahun bertakhta Sultan HB X (kanan) yang didampingi permaisuri GKR Hemas di Pagelaran Keraton Jogja, tadi malam (18/5).
JOGJA – Tingalan jumenengan dalem atau peringatan ulang tahun naik takhta raja Keraton Jogja digelar di Bangsal Pa-gelaran Keraton Jogja, tadi malam (18/5). Acara tersebut sekaligus sebagai penan-da atau sosialisasi berubahnya nama Sultan Hamengku Buwono X menjadi Sultan Hamengku Bawono (tanpa angka romawi di belakangnya). Itu sebagai tindak lanjut dari sabdaraja yang dikeluarkan 30 April lalu.Sejak awal acara hingga memberikan sam-butan, Sultan tidak lagi disebut bernama Hamengku Buwono X. Tapi, berulang-ulang pembawa acara yang menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia di depan ratusan undan-gan menyebut dengan nama Hamengku Bawono. Demikian pula sejumlah karangan bunga yang ada di depan pagelaran
Beberapa pihak seperti Bank BNI, Bank BPD DIJ memberikan ucapan selamat dengan nama Hamengku Bawono. Meski baru kali pertama dige-lar, ulang tahun naik takhta Ha-mengku Bawono itu langsung memasuki angka ke-27 tahun. Ini sesuai masa bertakhtanya Hamengku Buwono X yang ju-meneng (naik takhta) sebagai sultan sejak 7 Maret 1989 atau berdasarkan penanggalan Jawa bertepatan dengan 29 Rejeb Wawu 1921 atau 29 Rejeb Ehe 1948.
Jalannya acara molor 30 menit dari jadwal. Sekitar tujuh menit setelah dibuka, acara langsung diisi dengan sambutan sang raja. Ketika menyampaikan orasi budaya itu, Hamengku Bawono sempat menyinggung soal pemaknaan nama dan gelar seorang pemimpin.Mantan Ketua Kadin DIJ itu mengingatkan sebutan pemim-pin tidak hanya pada pemak-naan gelar pada filosofis saja. Tapi dibuktikan dengan tindakan nyata demi kesejahteraan ra-kyat dan kebesaran agama. “Ha-rus bisa dibuktikan dengan tindakan nyata,” tegasnya.Hamengku Bawono yang hadir mengenakan baju batik biru menambahkan, peringatan tinga-lan jumenengan ini waktunya berdekatan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Menurut dia, Isra Mikraj merupakan perjalanan Muham-mad menerima perintah salat lima waktu langsung dari Allah SWT. Perjalanan tersebut hanya bisa diyakini dengan iman. “Dengan iman itu pula umat Islam bisa menangkap hikmah hubungan horisontal kemasy-arakatan dan vertikal, baik se-bagai pemimpin dan insan yang menyembah ke Sang Khaliq,” jelas ayah lima putri ini.
Prinsip tersebut sesuai dengan ajaran Hamemayu Hayuning Bawono yang berarti juga ber-kewajiban untuk bermanfaat bagi masyarakat lainnya. Nilai-nilai filosofi tersebut, lanjut dia, harus bisa dibumikan. “Men-jadi penuntun perilaku warga yang berbudaya,” ingat suami GKR Hemas ini.Dalam kesempatan itu, raja yang juga gubernur DIJ ini kem-bali mengingatkan pentingnya dialog budaya. Hakekat dialog budaya adalah mediasi kema-nusiaan yang bersumber pada hati nurani. Karena itu dalam masyarakat Jawa, jika ada po-tensi perbedaan bisa dikemba-likan pada peran penting kebu-dayaan. “Mediasi bisa menjadi kondisi elegan, sesuai dengan filosofi Jawa, menang tanpa ngasorake,” jelasnya.Acara tingalan jumenengan ini terbilang minim dari kehadiran kerabat keraton, khususunya adik-adik Hamengku Bawono. Dari 11 orang rayi dalem (adik sultan) baik satu ibu maupun beda ibu, hanya terlihat KGPH Hadiwinoto yang duduk di de-retan tamu kehormatan.Adik sultan yang selama ini menolak keras sabdaraja dan dawuhraja GBPH Prabukusumo sejak awal mengaku memilih tak datang. “Saya dapat undan-gan, tapi tidak hadir, karena bukan sultan saya,” tulis Gusti Prabu, sapaan akrabnya melalui pesan singkat.
Sedangkan adik sultan lainnya, GBPH Yudhaningrat, memilih bergabung dengan abdi dalem yang menabuh gamelan. “Gus-ti Yudha jadi pengendang,” ung-kap KRT Poerbokusumo, salah satu kerabat keraton. Sebagai penghageng Kaweda-nan Hageng Punakawan (KHP) Kridha Mardawa, Gusti Yudha bertanggung jawab terhadap pementasan beksan Sang Amur-wabhumi dan wayang orang Suprabawati Boyong yang dip-entaskan dalam acara tersebut. KHP Kridha Mardawa adalah semacam kementerian kebu-dayaan di lingkungan keraton.Dua putri Hamengku Bawono yakni GKR Mangkubumi dan GKR Bendara ikut bergabung sebagai penari wayang orang. Keduanya memerankan tokoh widadari atau bidadari.Sejumlah tokoh tampak me-madati kursi undangan. Di an-taranya mantan Mendagri Mar-diyanto, Bupati Gunungkidul Badingah, Bupati Bantul Sri Su-rya Widati, mantan Bupati Ban-tul Idham Samawi, dan Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti yang datang bersama istrinya Tri Ki-rana Muslidatun.
Dari jajaran pejabat pemprov tampak antara lain Sekprov DIJ Ichsanuri, Kepala Bappeda Tavip Agus Rayanto, Kepala DPPKA Bambang Wisnu Handoyo, Ke-pala Disnakertrans Sigit Sapto Raharjo, dan Kepala BLH DIJ Joko Wuryantoro. Juga tampak Sekkab Kulonprogo RM Astungkoro dan Sekkab Sleman Sunartono.Beksan bedaya Sang Amurwa-bumi merupakan karya Ha-mengku Bawono semasa masih bernama Hamenngku Buwono X. Amurwabumi adalah gelar dari Ken Arok, ketika naik tak-hta sebagaug raja Singasari. Tarian itu diciptakan pada era 1990-an atau awal-awal HB X naik takhta.Tamu undangan, maupun ma-syarakat yang menonton melalui layar lebar di alun-alun utara juga disuguhi dua repertoar beksan bedaya Sang Amurwabumi dan wayang orang dengan cerita Su-prabawati Boyong. (pra/laz/ong)

Breaking News