JOGJA – Penolakan terhadap sabdaraja dan dawuhraja yang dikeluarkan Sultan Hamengku Buwono X terus ditunjukkan oleh adik-adik raja Keraton Jogja itu. Setelah KGPH Hadiwinoto, GB-PH Prabukusumo, dan GBPH Yudhaningrat, kini gantian enam putra laki-laki HB IX yang selama ini menetap di Jakarta menyam-paikan sikap serupa. Enam pange-ran itu adalah GBPH Pakuningrat, GBPH Cakraningrat, GBPH Su-ryodiningrat, GBPH Suryometa-ram, GBPH Hadinegoro, dan GBPH Suryonegoro.Mereka secara tegas menolak keputusan kakaknya yang meng-ganti gelar dari Hamengku Bu-wono X menjadi Hamengku Ba-wono Kasepuluh dan menobatkan putri sulungnya, GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Ha-memayu Hayuning Bawono Lang-geng ing Mataram
“Kami hanya mengakui Sri Sul-tan Hamengku Buwono X, dan tidak mengakui adanya Sri Sultan Hamengku Bawono, karena yang bertakhta di Keraton Jogjakarta adalah Sri Sultan Hamengku Bu-wono, sehingga tidak dapat diubah,” ungkap GBPH Cakraningrat di kantornya, Tepas Danarta Pura Keraton Jogja, kemarin (13/5).Gusti Cakra, sapaan akrabnya, menerangkan, pernyataan sikap itu sebetulnya telah rampung disusun sejak Minggu (10/5) lalu. Pernyataan tersebut ke-mudian diteken GBPH Pakuning-rat sebagai putra tertua di an-tara enam pangeran Jakarta yang terlahir dari garwa dalem HB IX, Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Tjip-tomurti. Namun pernyataan itu baru dikirimkan dan diterima Gusti Cakra pada Selasa (12/5) malam. Gusti Cakra sendiri merupakan putra nomor urut dua atau persis di bawah Paku-ningrat.
Dikatakan, pernyataan itu di-keluarkan sebagai respons me-nanggapi polemik di keraton yang dirasakan berimplikasi luas terhadap masyarakat. Dam-paknya bukan hanya kepada kerabat dan abdi dalem saja. Tapi juga merembet terhadap keistimewaan DIJ. Sebelum menyampaikan sikap itu, enam rayi dalem itu telah mengumpulkan data dari ber-bagai sumber. Termasuk men-dengarkan penjelasan langsung dari HB X di Keraton Kilen, Ka-mis (7/5) lalu. Pertemuan ber-langsung selama dua jam dari pukul 16.30 sampai 18.30. Selain menolak perubahan gelar dari Hamengku Buwono menjadi Hamengku Bawono, enam pangeran itu juga tidak mengakui adanya putri mah-kota maupun sultan perempuan. Sebab, dalam hukum adat, ke-turunan darah dalem hanya dari pihak laki-laki. Bila tetap dilakukan, maka kelanjutkan Kasultanan Jogja akan terputus. “Sang penerus selanjutnya bukan lagi darah dalem (keturunan dinasti Hamengku Buwono),” tegasnya.
Menyikapi ontran-ontran itu, Gusti Cakra mengaku bersamasaudara-saudaranya sepakat me-nyelesaikannya dengan mengajak semua putra HB IX untuk bermu-syawarah tanpa adanya konflik. “Kita harus tetap menggunakan akal sehat dan kepala dingin,” ungkap Gusti Cakra. Dari 22 putra-putri HB IX yang lahir dari empat istri, saat ini ada 16 orang yang masih hidup. Mereka 12 orang anak laki-laki yang terdiri 11 pangeran plus HB X, dan empat anak perem-puan. “Pada intinya bila semua tetap sesuai dengan hukum adat, maka tidak akan ada implikasi terhadap hukum formal seper-ti UUK DIJ,” ingatnya.
Meski mendapatkan penolakan dari mayoritas pangeran putra HB IX, langkah HB X untuk meng-ganti nama dan gelarnya agaknya sudah bulat. Raja yang naik takh-ta sejak 7 Maret 1989 tak begitu mempedulikan sikap dari adik-adiknya tersebut. Terbukti, sore kemarin sejumlah pejabat dae-rah, anggota dewan maupun pejabat instansi vertikal telah menerima undangan tingalan jumenengan dalem atau pe-ringatan ulang tahun naik tak-hta raja ke-27. Tertulis di undangan itu pe-ringatan tingalan jumenengan dalem Sultan Hamengku Ba-wono X dan bukan Sultan Ha-mengku Buwono X. “Hamengku Bawono kan baru dideklarasikan kemarin, kok ini sudah peringa-tan yang ke-27 tahun,” ujar se-orang pejabat yang menerima undangan itu sambil tersenyum sekaligus gedek-gedek (meng-gelengkan kepala).
Dalam undangan berkop Ke-raton Ngayogyakarta Hadiningrat itu tertulis acara dilangsungkan di Bangsal Pagelaran, Keraton Jogja. Acaranya berlangsung Senin (18/5) malam pukul 19.00. Undangan diminta hadir setengah jam sebelumnya.Terpisah, Penghageng Kaweda-nan Hageng Wahana Sarta Kriya Keraton Jogja KGPH Hadiwinoto menegaskan, raja yang sekarang bertakhta di keraton masih bergelar Hamengku Buwono X. “Gelarnya tetap itu, nggak ada yang berubah,” tegasnya. Sebagai konsistensi atas sikap itu, kerabat keraton akan meng-gelar acara adat berupa labuhan ke pantai selatan (Parangku-sumo) dan Gunung Merapi pada Rabu (20/5) atau bertepa-tan dengan 29 Rejeb. Labuhan yang rutin diadakan setiap tahun itu khusus untuk memperinga-ti ulang tahun kenaikan takhta Hamengku Buwono X. “Bukan Hamengku Bawono. Kami menganggap sabdaraja tentang perubahan nama itu secara adat sejak awal cacat. Maka produknya juga batal demi hukum,” ujar adik kandung HB X ini.
Sama dengan enam pangeran Jakarta dan KGPH Hadiwinoto, Manggalayudha Keraton Jogja GBPH Yudhaningrat menegaskan, raja yang diakui bertakhta di Ke-raton Jogja adalah Sultan Ha-mengku Buwono X, dan bukan Sultan Hamengku Bawono Kase-puluh maupun gelar lainnya. “Gelarnya masih tetap khalifatul-lah sesuai amanat dan warisan dari leluhur Mataram Ngayogya-karta,” tegasnya. (kus/laz/ong)

Breaking News