BAHANA/RADAR JOGJA
SAYONARA : Inilah skuad Persiba Bantul saat melakoni laga uji coba terakhir kontra Persiram Raja Ampat di Stadion Sultan Agung (30/4) lalu. Skuad ini akhirnya dibubarkan.

PSIM Jogja Tunggu Hasil Rapat

BANTUL – Akibat dibubarkannya Liga Indonesia oleh PSSI, berdampak ke masa depan klub-klub di tanah air. Satu per satu klub peserta kompetisi mulai membubarkan diri. Itu termasuk klub-klub di DIJ
Setelah PSS Sleman secara resmi dibubarkan Minggu (10/5), nasib klub peserta Divisi Utama (DU) asal DIJ lainnya, Persiba Bantul dan PSIM Jogja tinggal menunggu waktu.
Untuk Persiba Bantul, manajemen menyatakan pembubaran tim resmi akan dilakukan pada 15 Mei mendatang. Itu dilakukan setelah klub memenuhi hak gaji dari para pemain. Sedangkan bagi skuat Laskar Mataram julukan PSIM Jogja, masih menunggu rapat internal yang digelar tadi malam.
Manajer Persiba Bantul Endro Sulastomo mengatakan, sebelum hak gaji pemain dipenuhi, manajemen memilih untuk meliburkan skuad Laskar Sultan Agung. Nah, setelah kewajiban manajemen kepada skuat terpenuhi, barulah secara resmi Persiba dibubarkan. “Kami masih mencari dana untuk membayarkan gaji pemain, pelatih dan ofisial tim untuk April. Setelah itu barulah kami nyatakan bubarkan,” kata Endro kemarin.
Endro mengatakan, saat ini manajemen memberi kebebasan bagi para pemain maupun pelatih menentukan nasib pribadi masing-masing. Meskipun begitu, sebelum resmi dibubarkan, manajemen berencana akan mengumpulkan skuad. Itu dilakukan seperti di saat peluncuran klub. “Pembubaran pun rencananya seperti saat launching klub. Kami ingin berkumpul bersama sebelum resmi bubar,” katanya.
Pria yang juga anggota legeslatif DPRD Kabupaten Bantul ini menjelaskan, pembubaran tim merupakan langkah paling logis mengingat kompetisi secara resmi sudah tidak berjalan. Dengan diberhentikannya kompetisi, praktis tidak ada lagi pemasukan bagi klub yang selama ini mengandalkan tiket pertandingan.
Sedangkan untuk mengandalkan sponsor, Endro mengatakan cukup berat bagi klub yang berkompetisi pada kasta ke dua Liga Indonesia. Sebab, sponsor lebih tertarik menjaring kerjasama dengan klub-klub asal kompetisi tertingga yakni ISL.”Kalau dipertahankan klub ini mengalami kerugian,” terangnya.
Endro menjelaskan, setiap bulan klub megeluarkan sedikitnya Rp 200 juta untuk biaya operasional. Sehingga bila dirata-rata selama tiga bulan dibentuknya tim, pengeluaran Persiba sudah mencapai Rp 600 juta. “Bila dihitung-hitung secara keseluruhan biaya operasional pengeluaran kami sudah mencapai Rp 800 juta. Terbesar memang habis untuk menggaji pemain dan juga katring,” terangnya.
Pelatih Persiba Didik Listiyantara mengatakan, pihaknya masih menunggu pembayaran dari manajemen. Klub sendiri belum memberikan keputusan pembubaran tim.”Sekarang ini vakum. Pemain juga sudah banyak yang meninggal mess,” kata Didik yang lebih memilih pulang ke kampung halamannya.
Didik mengatakan, pihak manajemen memang akan menjanjikan pembayaran gaji yang tersisa bulan April pada minggu ini. Kepan kepastiannya, Didik mengatakan masih menanti kabar dari manajemen.”Hanya dikabari minggu ini. Setelah siap, kami akan dihubungi kembali,” terangnya.
Sementara itu dari kubu PSIM, melalui manajer tim Agung Damar Kusumandaru menyatakan baru akan memutuskan masa depan klub setelah menggelar rapat internal manajemen. Anggota DPRD Kota Jogja ini masih menyimpan rapat, mengenai masa depan dari skuat Laskar Mataram. “Tunggu saja hasilnya setelah rapat akan kami sampaikan ke publik,” tandasnya. (bhn/din/ong)

Breaking News