Tapi Hanya Drop Penumpang, Parkir di Senopati atau Ngabean


JOGJA – Janji Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menampung semua masukan dan mengubah kebijakan larangan bus delapan seat ke atas ke kawasan Njeron Beteng, akhirnya terealisasi. Mulai long weekend Kamis (14/5) nanti, hanya bus besar yang dilarang masuk ke lingkungan Keraton Jogja itu.
Sedangkan untuk bus kecil mendapatkan lampu hijau masuk kawasan cagar budaya itu. Nantinya, larangan ini akan diatur dengan ukuran panjang dan lebar bus. Juga tonase kendaraan. Bukan jenis seperti yang diberlakukan di dalam rambu larangan selama ini.
“Itu pun hanya drop saja,” tandas HS, sapaan akrabnya, usai mengikuti rapat paripurna di gedung DPRD Kota Jogja, kemarin (11/5). Ia mengungkapkan, bus kecil boleh masuk. Tapi, mereka tak boleh parkir di Njeron Beteng.
Parkir bus kecil tetap harus di Taman Khusus Parkir (TKP) Senopati dan Ngabean. “Kalau parkir di dalam (Njeron Beteng) akan dialihkan keluar,” jelas HS.
Ia menegaskan, kebijakan ini akan berlaku efektif pada long weekend nanti. Travel agent yang selama ini menolak kebijakan larangan jenis bus masuk kawasan Keraton, tak perlu khawatir. Mereka bisa mengantarkan tamu atau wisatawan sampai ke tujuan. “Kemudian busnya keluar. Parkir di tempat parkir yang telah disediakan,” katanya.
Demi kelancaran uji coba kedua ini, HS menambahkan, pihaknya telah memerintahkan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja untuk menyiapkan rambu-rambu lalu lintas. Sehingga pada Kamis mendatang bus-bus yang mengantarkan wisatawan sudah bisa masuk ke pusat budaya Jawa tersebut.
“Keraton tetap menjadi tujuan utama destinasi wisata. Makanya kami atur agar semua pihak merasakan kenyamanan. Baik itu masyarakat sekitar, pelaku pariwisata, dan stake holder di sana,” imbuh wakil wali kota periode 2006-2011 ini.
Kebijakan baru ini, lanjut HS, juga bersifat sama uji coba. Hanya saja ia tak menargetkan uji coba ini kapan berakhir. Kemudian menjadi kebijakan yang bersifat tetap untuk membatasi keruwetan lalu lintas di dalan Njeron Beteng.
“Yang jelas, penataan di Njeron Beteng bertahap. Terus akan dilakukan perbaikan-perbaikan demi membuat Keraton lebih nyaman,” tamhahnya.
Dukungan terhadap kebijakan Pemkot Jogja ini mulai mengalir dari wakil rakyat. Ketua DPRD Kota Jogja Sujanarko menegaskan, pemkot memang perlu untuk mendengarkan semua pihak. Termasuk soal larangan bus masuk ke Keraton. Itu harus dilakukan sesuai masukan dari masyarakat sekitar maupun kalangan pelaku pariwisata.
“Karena termasuk pariwisata, nantinya hal-hal yang menyangkut ini perlu disosialisasikan lebih efektif ke masyarakat. Agar gejolak-gejolak yang mengganggu pariwisata, baik itu wisatawan dan warga bisa diminimalisasi,” usul Koko, panggilan karibnya.
Wakil Ketua DPD PDIP DIJ ini mengatakan, kebijakan pemkot mengenai pariwisata ke depan bakal lebih tertata rapi. Ini setelah dewan dan eksekutif bersepakat mengenai Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA). “Nanti akan diatur lebih detil di perwal. Pemkot tinggal menyosialisasikan perwal itu dan melaksanakan, sehingga tidak menimbulkan gejolak,” harapnya. (eri/laz/ong)

Breaking News