Masih Kumpulkan Saksi, Target Akhir Mei Kelar



JOGJA – Satu per satu perkara dugaan korupsi yang ditangani Kejati DIJ rampung. Setelah melimpahkan perkara hibah Persiba dan PLN, kini tim penyidik Kejati DIJ sedang merampungkan penyidikan dugaan korupsi pengadaan pergola Pemkot Jogja. Dalam perkara ini, penyidik menetapkan tiga orang tersangka yaitu Kepala BLH Jogja Irfan Susilo, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Suryadi, dan Hendrawan selaku rekanan.
“Kami targetkan akhir Mei atau awal Juni penyidikan pergola sudah rampung. Sekarang penyidik masih memerlukan keterangan saksi-saksi,” kata Asisten Pidana Khusus Kejati DIJ Azwar SH kemarin.
Azwar memastikan, pelimpahan berkas ke-3 tersangka ke jaksa penuntut akan dilakukan sekaligus. Ini tentu berbeda dengan penanganan perkara hibah Persiba, dari empat tersangka baru dua tersangka yaitu Dahono dan Maryani yang dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Jogja. Sedangkan berkas HM Idham Samawi dan Edy Bowo Nurcahyo masih ngendon di tangan penyidik.
“Berkas ke-3 tersangka memang di-split. Namun untuk memudahkan pembuktian di persidangan nanti, maka pelimpahan berkas para tersangka akan dilakukan bersama-sama,” tambah Azwar.
Dalam perkara ini, terakhir penyidik memanggil mantan Ketua DPRD Kota Jogja Henry Kuncoroyekti. Ketua Banggar DPRD Jogja dan politikus PDI Perjuangan itu dianggap mengetahui proses penganggaran proyek pergola. Kesaksian Henry untuk melengkapi berkas ke-3 tersangka. Sebab, ada dugaan penyimpangan proyek senilai Rp 5,3 miliar tersebut melibatkan oknum anggota dewan setempat.
“Kami masih menelusuri kemungkinan ada keterlibatan pihak lain. Yang jelas, siapa pun yang terlibat tentu akan dimintai pertanggungjawaban,” tegas Azwar.
Kini, tim penyidik masih terus menunggu hasil verifikasi Inspektorat Pemkot Jogja. Sebab, Inspektorat menduga nilai kerugian negara proyek peneduh itu lebih dari Rp 700 juta. “Kami masih melakukan verifikasi data dan kemungkinan masih ada saksi yang akan diperiksa untuk menguatkan sangkaan,” beber Azwar.
Penyidikan dugaan korupsi pergola bermula dari laporan masyarakat yang mengindikasikan ada kongkalikong antara eksekutif dengan seorang pengusaha. Dari nilai proyek Rp 5,3 miliar, hanya Rp 1 miliar dilelang secara terbuka. Sisanya, dipecah menjadi puluhan paket pengerjaan. Nilai proyek di bawah Rp 200 juta dilakukan penunjukan langsung yang melibatkan sedikitnya 30 rekanan. Bahkan oknum yang terlibat mencatut sejumlah bengkel las untuk memuluskan aksinya. (mar/laz/ong)

Breaking News