GUNAWAN/RADAR JOGJA
ALTERNATIF: Gubernur DIJ HB X secara simbolis menanam tanaman nyamplung di RPH Gubug Rubuh, Playen, kemarin (7/5).GUNUNGKIDUL -Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Jogjakarta mengembangkan tanaman nyamplung di Gunungkidul. Jenis tanaman yang berasal dari Dompu Nusa Tenggara Barat tersebut akan diolah menjadi biodiesel.
Peneliti Utama BBPBPTH Jogjakarta Budi Leksono mengatakan, tanaman nyamplung dikembangkan di lahan seluas 25 hektare. Jenis tanaman tersebut sengaja dipilih untuk menjadi biodiesel karena memiliki rendemen paling tinggi diantara jenis lainnya di Indonesia.
“Sejak Desember lalu, kami menanam sebanyak sepuluh ribu bibit di RPH Gubug Rubuh, Playen. Diharapkan, sudah mulai berbuah setelah berumur tiga sampai empattahun,” kata Budi di sela-sela kunjungan Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X di RPH Gubug Rubuh, Playen, kemarin (7/5).
Dia menjelaskan,tanaman nyamplung cukup mudah untuk dikembangkan di lahan-lahan kritis.Produktivitasnya cukup tinggi yakni bisa mencapai 150 kilogram tiap pohon per tahun. Oleh karena itu, ke depan masih diperlukan perluasan tanaman 75 sampai 100 hektare.
“Perlu diketahui, untuk bisa menghasilkan satu liter minyak nyamplung, hanya membutuhkan sekitar 2,5 kilogram biji nyamplung saja,” terangnya.
Dijelaskan, tingginya potensi tanaman nyamplung menjadi dasar pengembangan nyamplung sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN) di Indonesia. Nanti, jika dari Gunungkidul mulai dipanen, hasilnya akan digunakan untuk menyuplai bahan bakubiodiesel di Unit Pengolahan Bahan Bakar Nabati di Baron Techno Park.
Sementara itu, Gubernur DIJ HB X mengatakan, pengembangan tanaman nyamplung sebagai bahan baku pembuatan biodiesel sudah sesuai dengan rancangan program energi berkelanjutan oleh pemerintah pusat. Sebab, energi berbahan baku fosil dan gas diperkirakan akan habis dalam beberapa tahun ke depan. “Dalam mendukung program energi berkelanjutan tersebut, tanaman nyamplung akan dikembangkan di lahan seluas 100 hektare,” kata HB X. (gun/ila/ong)

Breaking News