GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
PENERUS: Sultan HB X menobatkan GKR Pembayun menjadi putri mahkota. Foto ini diambil saat upacara Ngabekten Puteri tahun 2014.
POLEMIK sabdaraja Sultan HB X terus berlanjut. Tokoh lintas agama KH Abdul Muhaimin me-nilai Sultan HB X tidak konsisten terhadap apa yang telah diucap-kan kepada masyarakat. Hal ini menyangkut hubungan Keraton Jogja dengan Kekhalifahan Utsmani di Turki yang pernah disampaikan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 di Jogja Februari lalu. Kekhalifahan Utsmani adalah kasultanan ter-akhir yang membawahi seluruh kerajaan umat Islam di dunia, runtuh pada 1924.Sebagai penerus Kerajaan Ma-taram, Sultan memiliki gelar Sam-peyan Dalem Ngarso Dalem Ing-kang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah
Gelar tersebut memiliki tiga di-mensi kepemimpinan yaitu budaya, sosial, dan agama. Jika di antara tiga dimensi kepemimpinan ter-sebut dihilangkan, maka akan ada sesuatu yang hilang dan ini meng-ingkari raja terdahulu.”Jika gelar khalifatullah dihi-langkan, maka posisi sultan tidak lagi menjadi pucuk kepemim-pinan. Sebab, ia sudah menghi-langkan satu di antara dimensi yaitu pemimpin agama,” beber ketua Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB) ini.Selain itu, Muhaimin meng-kritik ajakan Sultan HB X menge-nai lelaku Hamengmayu Ha-yuning Bawana kepada kepada seluruh kerabat dan abdi dalem Keraton Jogja serta masyarakat. Kini, ajakan itu seolah tidak ada artinya. Sebab, Sultan sendiri tidak melakukan Hamengmayu Hayuning Bawana dalam kehidu-pan sehari-harinya.”Hamengmayu Hayuning Ba-wana diacak-acak sendiri oleh sang raja. Beliau tidak memberi-kan contoh kepada kerabat, abdi dalem, dan masyarakat,” sindir pengasuh Ponpes Nurul Umma-hat Kotagede ini. (mar/laz/ong)

Breaking News