FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BIKIN EMOSI: Rumput Alun-Alun Kota Magelang rusak usai digunakan acara musik sebuah produsen sepeda motor. Ini terlihat dari bekas tapak ban mobil yang masuk sampai ke tengah alun-alun. Ini dimungkinkan untuk bongkar muat saat memasang panggung.
Pemkot Magelang ditantang menyelesaikan persoalan fasilitas umum. Ini menyangkut rusaknya rumput di alun-alun setempat pascakegiatan servis dan ganti oli gratis dari sebuah perusahaan sepeda motor. Rumput alun-alun rusak karena pihak penyelenggara mengadakan kegiatan promosi sembari mengadakan konser musik. Yakni menampilkan OM Lathansa dan Grup Reggae Lapiezt Legit.
“HARUS ada solusi bagi rusaknya rumput alun-alun pascaacara akhir pekan lalu,” kata Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Magelang Kun Wira Wiyasa kemarin (4/5).Bagi masyarakat awam, pelaksanaan konser musik di alun-alun, meski gratis, tetap dipandang sebagai promosi. Ini merupakan hal janggal. Apalagi kegiatan ini bertepatan dengan pengajian Selapanan Masjid Agung Kota Magelang yang jatuh pada Minggu Pahing. Kebetulan, masjid kebanggaan masyarakat Kota Magelang ini hanya berjarak 50 meter dari panggung musik
Publik Magelang memandang ini sebagai sebuah keganjilan. Karena, dalam beberapa tahun belakangan ini, izin even ber-samaan pengajian rutin tak per-nah diberikan Pemkot Magelang. Fakta ini mendapat penilaian dari masyarakat tentang adanya dugaan izin khusus yang se ngaja diberikan pada pihak penye-lenggara.”Memang tidak biasa. Ada pengajian di Masjid Agung diba-rengi dengan even produk tertentu untuk promosi. Harus ada alasan logis, kenapa acara tersebut di-izinkan agar tidak menimbulkan presenden buruk. Terlebih bagi event organizer (EO) dan warga,” kata Joko Setiawan, warga Ke-lurahan Magelang, Magelang Tengah, ditemui di Alun-alun Kota Magelang, kemarin (4/5).Kesan aneh yang muncul lain-nya, jenis kegiatan hiburan yang diadakan salah satu branch otomotif tersebut adalah me-mentaskan musik dangdut, yang sudah dikenal para EO lain sebagai momok sulitnya men-dapatkan izin.”Di Taman Kyai Langgeng be-berapa tahun lalu harus geser hari untuk pentas dangdut. Semula rutin diadakan pada Minggu Pahing, menjadi Minggu Wage. Sementara kegiatan ke-marin, meski berdekatan dengan masjid, harinya juga bareng, tetapi kok tetap diperbolehkan,” ungkapnya.Sementara itu, Takmir Masjid Agung Kauman Kota Magelang, H Jauhari, 82, mengaku, pihaknya tidak ingin mempersoalkan ke-giatan yang sudah berakhir Minggu lalu (3/5). Sebagai warga Kauman, ia menyayangkan kondisi alun-alun yang tadinya indah dan bersih, sekarang men-jadi kotor.”Kami tidak punya wewenang untuk memberi izin even di Alun-alun, boleh apa tidaknya. Apalagi sampai melarangnya. Yang bisa memutuskan itu kan Pemkot Magelang,” katanya.
Ia menjelaskan, sebelumnya sempat ada pemberitahuan dari kepolisian setempat terkait penyelenggaraan even di alun-alun bertepatan acara pengajian rutin di Masjid Agung. Saat itu, pihak pengurus masjid hanya mengusulkan agar penempatan sound system tidak menghadap ke barat atau ke masjid.”Sudah dilakukan, dan tidak ada yang merasa terganggu. Baik pengajian maupun kegiatan lain di alun-alun tetap berjalan normal,” ucapnya.Kendati begitu, Jauhari ber-harap, pemerintah bisa lebih selektif bila akan mengadakan kegiatan atau memberikan izin agar tidak bersamaan dengan pengajian. Untuk menghindari pandangan negatif masyarakat, akan menjadi kontrakdiksi bila diadakan siraman rohani se-telahnya bisa langsung disaksi-kan pertunjukkan musik dangdut atau lainnya.”Dulu kami pernah usul karena usia pengajian ini sudah lama, ketika masa Wali Kota Bagus Panuntun. Di hari dan neptu yang sama, dulu sempat ada dangdut di Kyai Langgeng, kami usul agar acara dangdut digeser. Sampai sekarang juga tidak barengan,” katanya.Seperti diketahui, pascaacara di Alun-alun, Sabtu (2/5) dan Minggu (3/5), menyisakan se-jumlah kerusakan fasilitas publik di pusat Kota Magelang tersebut. Kerusakan terjadi justru di depan panggung musik dari produk sepeda motor. Sedangkan untuk panggung wayangan, tidak ada masalah. Bahkan, terlihat tapak ban mobil di rerumputan bekas panggung musik. (dem/hes/ong)

Breaking News