SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
SANTAI: Kapolda DIJ, Kombes Pol Drs. Erwin Triwanto SH, duduk santai di sofa dalam rumahnya di Perumahan Merapi View, Sleman, Jumat (3/4). Untuk bisa menjadi “orang besar” seperti saat ini, ia banyak hidup prihati
Anggota polisi di DIJ, punya Kapolda baru, Komisaris Besar (Kombes) Polisi Drs. Erwin Triwanto SH. Untuk mengenal lebih dekat dengan Erwin, panggilan akrabnya, Jumat (3/4) saat libur Paskah kemarin, Radar Jogja bersilaturahim di kediamannya. Berikut laporannya.
PERJALANAN hidup Kombes Pol Erwin Triwanto, ternyata tak seperti yang dibayangkan banyak orang, yang biasanya Kapolda adalah berasal dari “balung gede” (kalangan orang yang hidup serba berkecukupan). Karena faktanya, untuk bisa menjadi anggota polisi, atau sekarang sebagai Kapolda DIJ, banyak hambatan, rin-tangan, dan ujian yang harus dilalui Erwin sejak kecil. Suami Arie Ardianie ini lahir di tengah keluarga dengan ekonomi kategori pas-pasan. Ayahnya yang berprofesi sebagai TNI Angkatan Laut (AL) ber-pangkat kopral ditugaskan menjaga pesisir utara, sedangkan sang ibu se-perti kebanyakan perempuan, yaitu mengurusi keperluan rumah.
Menginjak usia sepuluh tahun, ke-hidupan ekonomi Erwin dan keluarganya mulai goyah. Itu terjadi karena sang ibu meninggal dunia lantaran sakit. Kepergian ibunya, berimbas pada karir dan prestasi ayahnya yang terus menurun. Ia ber-sama tujuh saudaranya terpaksa harus menerima kenyataan pahit, hidup seadanya karena pendapatan sang ayah ikut menurun. “Setelah ibu meninggal, kami semua harus hidup seadanya. Bahkan, setiap hari kami berpikir, besok ada yang dimakan tidak,” kenang Erwin men-ceritakan masa kecilnya kepada Radar Jogja di rumah pribadinya Perumahan Merapi View, Jumat (3/4).
Saat menceritakan masa kecilnya, kedua mata Erwin terlihat berkaca-kaca. Sesekali ia harus menarik na-fasnya panjang panjang. Bahkan be-berapa kali perbincangan harus ter-henti. Seolah, ia tak kuat mengingat masa lalunya yang penuh dengan kehidupan yang pahit.Ujian hidup Erwin dan saudaranya tak berhenti di situ. Belum sampai lulus SMP, ia harus kehilangan sang ayah. Ayahnya meninggal karena sakit. Tak ingin menyerah atas nasib yang dialaminya, Erwin dan saudaranya memutuskan meninggalkan kota ke-lahirannya, Tegal, Jawa Tengah.Sebagian saudaranya hijrah ke Ja-karta. Sedangkan Erwin ikut saudara lain ke Boyolali. Di kota susu ini lah, Erwin mulai menata hidupnya.
Usai lulus SMP pada 1975, Erwin gerilya mencari beasiswa sekolah setingkat SMA. Keinginan melanjutkan sekolah SMA terwujud. Setelah lulus SMA pada 1980, ia kembali berusaha men-cari beasiswa pendidikan lebih tinggi. “Ingin kuliah tapi tak terwujud ka-rena ekonomi terbatas,” terang anak nomor 4 dari 8 bersaudara ini.Berbekal keinginan yang kuat dan semangat yang kuat, usaha Erwin melanjutkan studi pendidikan lebih tinggi terwujud. Pria kehiran Tegal 14 Februari 1960 ini berhasil mendapat-kan beasiswa di sebuah pendidikan khusus pilot. Hanya saja, pendidikan pilot yang diikuti tak berlangsung lama. Belum sampai lulus, ia terpak-sa harus meninggalkan pendidikan pilot dengan alasan kesehatan. “Saya medot di tengah jalan,” katanya.
Setelah meninggalkan pendidikan pilot, Erwin sempat berhenti dan kem-bali ikut dengan saudaranya. Tak ingin menyusahkan saudara, Erwin kembali mengejar mimpinya, yaitu ingin sukses supaya bisa membantu beban saudara- saudaranya. Berbekal kemauan, semangat, dan dukungan saudaranya, pada 1982 ia ikut mendaf-tar sebagai anggota Angkatan Bersen-jata Republik Indonesia (AKABRI). “Alhamdulillah saya lulus tes dan ma-suk AKABRI,” terang bapak dua putra ini. Setelah lulus, ia terpaksa harus jauh dari saudara dan mengikuti seluruh proses pendidikan militer. Saat masuk AKABRI, ia memutuskan memilih menjadi polisi (sekarang Akpol). Se-telah mengikut pendidikan militer, untuk kali pertama dirinya ditugaskan ke Kalimantan Selatan pada 1986. Ia ditunjuk sebagai Kaset Ops Res Taba-long Polda Kalimantan Selatan dan Tengah.”Masuk Akpol tidak harus anak kaya. Saya sendiri mengalami. Yang penting niat baik, tekad, dan kemauan. Jangan lupa belajar materi yang akan diujikan,” jelas Erwin. (mar/jko/ong)

Breaking News