PANITIA KRAPSI 2014 FOR RADAR JOGJA

KOMPAK: Panitia dan wasit KRAPSI 2014 berfoto bersama di Gelanggang Renang Tirta Krida, Akademi Angkatan Udara (AAU). Kejuaraan renang ini akan berlangsung hingga hari ini.

Hanya Bisa Berharap di Nomor Marathon

JOGJA – Hingga pergelaran hari ke-tiga Kejuaraan Renang Antar Perkum-pulan Seluruh Indonesia (KRAPSI) 2014, perenang-perenang DIJ belum bisa meraih medali dalam ajang. Kemarin, beberapa nomor yang men-jadi andalan gagal dikonversi atlet DIJ merengkuh medali.Perenang andalan tuan rumah Keanu Tristan Nayoan kembali gagal merengkuh medali. Atlet yang paling diandalkan DIJ menyumbangkan prestasi ini lagi-lagi tidak mampu menembus peringkat tiga besar pada nomor-nomor yang dia ikuti.
Terjun di nomor 100 meter gaya dada putra Kelompok Umur (KU) 3, perenang binaan klub Tirta Taruna ini hanya membukukan catatan waktu 1 menit 13, 28 detik. Di nomor ini Keanu Cuma finis di peringkat ke lima.Turun di nomor 50 meter gaya kupu-kupu putra, Keanu juga cuma mampu menembus peringkat keempat dengan catatan waktu 29,34 detik. Capaian ini hanya membawanya finis di peringkat keempat klasemen umum.Sedangkan di nomor estafet, DIJ yang mengandalkan klub Tirta Taruna (TT) juga tak mampu merengkuh medali.
Pada nomor estafet 4×400 meter gaya ganti putra, TT hanya bisa finis di pe-ringkat kelima. Pada nomor 4×50 meter gaya ganti estafet putri TT malah gagal menembus 10 besar.Legenda renang DIJ yang juga Ktua Panitia KRAPSI 2014 Boyke Dharma mengatakan, banyak faktor yang mem-buat DIJ sulit berprestasi di even ting-kat nasional. Salah satunya adalah passion dan kecintaan perenang DIj terhadap olahraga renang itu sendiri.Boyke bercerita di zamannya dulu, para perenang memiliki totalitas yang tinggi terhadap olahraga air ini.
Sedangkan atlet sekarang memilih men-jadi perenang tidak semata-mata ka-rena suka renang.”Perenang zaman saya dulu, itu total mencintai renang. Sehingga mereka total membela DIJ dan tak akan ter-goda iming-iming dari daerah atau klub lain. Kalau sekarang, jika ada klub atau daerah lain berani memberi jaminan, mereka pasti pindah,” sergahnya.
Kata Boyke, untuk menjadi seorang juara sejati, seorang perenang harus memiliki kecintaan besar pada renang. Hal itulah yang ditunjukkan atlet-atler DIJ di masa lalu. “Hengkangnya atlet-atlet andalan DIJ ke daerah lain jelas menjadi salah satu penyebab. Ya, memang itulah perbedaan zaman saya dan zaman sekarang,” tuturnya.
Pelatih Kepala Tirta Taruna Mulyono mengakui, peluang perkumpulannya meraih gelar di nomor estafet memang sulit. Sebab, perkumpulan lain yang berasal dari luar daerah memiliki ke-kuatan lebih merata.”Tentunya kami harus memetik ba-nyak pelajaran dari perkumpulan-perkumpulan yang jauh lebih maju dari kami. Ya harus diakui untuk saat ini Jogja masih tertinggal,” tukasnya.
Peluang DIJ meraih medali sendiri masih terbuka. Pada gelaran hari ter-akhir yang didominasi nomor mara-thon, beberapa atlet DIJ turun. Namun bila melihat peta persaingan, seper-tinya impian DIJ memenuhi target 3 emas, 3 perak dan 4 perunggu yang dicanangkan Pengprov PRSI DIJ nya-ris pupus. (nes/din/jiong)

Breaking News