DWI AGUS/RADAR JOGJA

PALING COCOK: H Soetopo merasa realisme adalah pemikiran yang paling cocok dengan kepribadiannya

Raih Penghargaan dari Dinas Kebudayaan DIJ

JOGJA – Sebagai perupa, peran-nya dalam menciptakan karya patung sangat diperhitungkan. Inilah salah satu alasan bagi Di-nas Kebudayaan DIJ memberikan penghargaan kepada H Soetopo. Penghargaan ini atas konsisten-sinya dalam dunia seni rupa khususnya patung.Beberapa karyanya telah men-ghiasi beberapa ruang publik di Jogjakarta. Salah satunya adalah Monumen Serangan Oemoem Satoe Maret yang digarapnya bersama pematung Saptoto. “Saya bangga menerima peng-hargaan ini tapi juga menjadi sebuah tugas. Terutama dalam mengawal perkembangan seni patung di Jogjakarta,” kata Soetopo saat menerima peng-hargaan di Bangsal Kepatihan Jogjakarta beberapa waktu lalu.
Soetopo tidak hanya bermain dengan indahnya patung. Pria kelahiran Jogjakarta, 19 April 1931 ini juga menggeluti bidang seni lukis. Bahkan keahliannya bisa dibilang seimbang an-tara patung dan lukis. Dalam berkarya dirinya menganut aliran realisme yang konsisten dan fanatikAliran ini telah dipilih sebagai jalan hidup seninya sejak tahun 1951 silam. Menurutnya rea-lisme adalah pemikiran yang paling cocok dengan kepriba-diannya. Selain itu di kalangan masyarakat awam juga cenderung menyenangi aliran ini. “Menggeluti apa yang nyaman untuk dilakoni. Saat memilih aliran ini seakan mengalir be-gitu saja. Selain itu realis juga memiliki kerumitan tersendiri. Meski saat ini telah berkembang banyak aliran tapi bagi saya realis sudah menjadi garis ber-karya,” katanya.
Menilik latar belakang seninya, Soetopo terbilang orang yang bersemangat. Tidak hanya terjun di dunia seni rupa, dirinya juga turut menari. Bahkan Soetopo pernah belajar tari di Sanggar Tari Irama Citra Jogjakarta.Menurutnya tari memiliki ke-indahan estetika tubuh. Mungkin ini pulalah yang turut mengin-spirasi beberapa karyanya. Le-bih jauh lagi, Soetopo pernah mengenyam pendidikan di Akademik Seni Rupa Indonesia yang sekarang menjadi Fakul-tas Seni Rupa ISI Jogjakarta. Namun jejak pendidikannya ini hanya bertahan selama tiga tahun di ASRI. “Alasan utama-nya biaya pada waktu itu se-hingga memilih tidak melanjut-kan. Lalu melanjutkan di PTPI dan bergabung di Sanggar Pelukis Rakyat,” kenangnya.
Di rumahnya di daerah Jalan Kaliurang KM 6/42 Sleman juga penuh dengan hasil karyanya. Beberapa karyanya ini men-ghiasi beberapa sudut rumah. Soetopo mengungkapkan ada beberapa patung mulai dari Pa-tung Anak, Patung Jenderal So-edirman, relief dan lainnya. Dia berharap dunia seni rupa Jogjakarta terus berkembang. Banyaknya aliran bukan men-jadi penghalang namun justru kemajuan. Termasuk dalam mengikuti dinamika per-kembangan seni. Tentunya ha-rus bisa bertahan dengan me-miliki ciri khas dalam berkarya. “Saya yakin dunia seni khu-susnya patung akan terus ber-kembang. Jogjakarta memi-liki potensi yang besar baik dari segi atmosfir dan juga senimannya,” tutup suami Hj Rubiati ini. (dwi/ila/ong)

Breaking News