Kantor Kesbang Kota Jogja Emoh Cairkan untuk KONI

JOGJA – Pembinaan olahraga di Kota Jogja terancam lumpuh. Ini menyusul keputusan Kantor Kesatuan Bangsa (Kes-bang) Kota yang menunda pencairan dana hibah untuk organisasi olahraga ini. Jumlah hibah yang ditangguhkan pencairannya mencapai Rp 22,7 miliar
Angka itu merupakan akumu-lasi hibah pada 2014 dan 2015. “Untuk hibah tahap kedua pada tahun anggaran 2014 se-besar Rp 7,8 miliar sudah pasti tidak dapat dicairkan,” ujar Ke-pala Kesbang Kota Jogja Su-kamto di kantornya, kemarin (24/12). Penundaan pencairan itu dilakukan menyusul adanya kasus hukum yang masih mem-belit Ketua KONI Kota Jogja Iriantoko Cahyo Dumadi. “Kami tidak ingin menanggung risiko di kemudian hari,” ujar Kasi Olahraga Kantor Kesbang Kota Jogja Sri Arika yang ikut men-dampingi Sukamto.
Selain menjabat kepala seksi olahraga, Rika juga menjadi pe-jabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK) terkait pelaksanaan hibah KONI. Dengan pertimbangan kehati-hatian, Rika selaku PPTK juga mempertimbangkan ulang rencana pencairan hibah KONI yang tahun anggaran 2015 diang-garkan Rp 14,9 miliar. “Dana itu juga belum dapat dicairkan,” katanya.
Rika mengaku telah membe-rikan telaah staf agar instansinya mengkaji ulang masalah hibah KONI itu. Ia berharap, status hukum yang mendera ketua KONI sebagai pihak penerima hibah agar diklarifikasi lebih dulu. “Kami harap semuanya clear dan clean. Terutama clean perfor-mance kepengurusan KONI,” terangnya.
Rika menegaskan, keputusan menunda pencairan hibah KONI itu dilakukan setelah berkonsul-tasi dengan Inspektorat Kota Jogja dan Inspektorat Provinsi DIJ. “Rekomendasinya kami diminta lebih berhati-hati,” ucap Rika.
Sukamto menambahkan, pi-haknya tidak bisa mengabaikan masukan yang disampaikan stafnya tersebut. Baginya, PPTK berkompeten memberikan saran dan pendapat. “Kalau PPTK saja tidak berani, masak saya harus menabraknya. Saya ingin semuanya enak. Kami sebagai pengguna anggaran dan KONI selaku penerima hibah posisinya sama-sama enak,” katanya. Lebih jauh dikatakan, telah banyak masukan diberikan pi-haknya kepada KONI. Untuk mengatasi masalah itu, KONI disarankan menunjuk pelaksa-na tugas (Plt) ketua. Setelah itu selama enam bulan diadakan musyawarah kota luar biasa. “Kami juga mendapatkan ma-sukan itu dari Wakil Ketua Umum KONI DIJ Zaelani,” terangnya.
Langkah ini pernah dilakukan KONI Sleman dan KONI Bantul yang ketuanya juga kesandung kasus hukum seperti KONI Kota Jogja. Ketua KONI Sleman adalah Mujiman dan Ketua KONI Bantul Idham Samawi. Mujiman terjerat kasus penggunaan dana hibah KONI 2011 dan Idham terkena kasus hibah Persiba Rp 12,5 miliar. Sedangkan Irian-toko menjadi tersangka kasus hibah KONI 2012 yang diguna-kan untuk membayar sebagian gaji pemain PSIM. Sukamto menegaskan, dengan alokasi anggaran Rp 14,9 miliar, sebenarnya ada komitmen kuat Pemkot Jogja memajukan pem-binaan olahraga di kota.
Sebab, mempertahankan juara umum Porprov DIJ menjadi target yang harus dicapai. Anggaran itu ni-lainya paling besar dibandingkan KONI di empat kabupaten se DIJ lainnya. “Kami ingin prestasi pembinaan olahraga maju tan-pa mengabaikan prinsip peng-elolaan anggaran yang baik dan benar,” ucapnya. (eri/laz/ong)

Breaking News