HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA

LEBIH SEHAT: Petani Desa Wonoroto Purworejo menunjukkan bibit padi yang disemai dalam baki sesuai yang diharapkan dalam penyiapan bibit dalam pola tanam organik, kemarin.

PURWOREJO-Dalam rangka mengikuti anjuran pemerintah, para petani di Wono-roto, Purworejo sedikit demi sedikit mulai meninggalkan pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik. Tidak hanya untuk budidaya padi, penggunaan pupuk organik juga mulai diterapkan untuk jenis tanaman palawija.
Sekretaris Desa Wonoroto Suyoto meng-ungkapkan, petani di desanya sebetulnya sudah mulai beralih ke pupuk organik cukup lama. Kendati belum 100 persen semua pu-puk organik, penggunaan pupuk kimia sudah dikurangi. “Penggunaan pupuk organik sudah 50 per-sen, dan kini terus diupayakan untuk pe-ningkatan penggunaannya. Target ke depan tentu 100 persen pupuk organik tanpa kimia,” ungkapnya.
Menurut Suyoto, kesadaran petani akan pen-tingnya pupuk organik juga sudah semakin tinggi. Dengan beberapa pembuktian, peng-gunaan pupuk organik hasil produksi perta-nian cukup bagus. Bahkan target produksi padi di desa Wonoroto masih tercapai dengan pengurangan penggunaan pupuk kimia. “Dalam satu hektare bisa produksi 5 ton lebih. Pola tanam mengikuti prosedur yang diterapkan dalam pola pertanian organik,” jelasnya.
Salah satunya seperti sistem tanamnya menggunakan jajar legowo, jarak tanam 25-30 sentimeter, dan pemilihan benih padi yang bagus dengan umur bibit padi 7 hari hingga 10 hari, serta tanamnya 1-2 rumpun. Proses penyemaian bibit padi juga meng-gunakan baki, sementara saat proses pena-naman benih padi dijaga. Dengan meng-gunakan pupuk organik, petani mampu menghasilkan beras yang lebih enak (pulen manis,Red) saat dimasak. Selain itu juga lebih awet tidak mudah basi. “Yang lebih disadari lagi oleh masyarakat petani, dengan mengonsumsi beras organik, sangat menyehatkan tubuh karena alami tidak terkena unsur kimia,” imbuh.
Mengenai kendala, menurut Suyoto, ke-terbatasan alat menjadi kendala utama pe-tani dalam menyediakan pupuk organik. Sebab, Desa Wonoroto belum memiliki alat pembuat pupuk organik (APPO). Sehingga jerami yang bisa diolah menjadi pupuk be-lum dapat dimanfaatkan secara maksimal. “Selama ini jerami dibakar di sawah. Tentu kami sangat berharap ada bantuan APPO dari pemerintagh, agar pupuk organik yang kami gunakan tidak harus membeli, melai-nkan memproduksi sendiri dengan mengo-lah jerami,” harapnya. (tom/din/ong)

Breaking News