Sharing Power, Bidik Posisi Bupati

WONOSARI – Politik memang tidak bisa ditebak kemana arahnya. Namun hingga kini kekuatan koalisi merah putih (KMP) masih digadang-gadang bisa bersatu menguasai posisi GK 1 atau posisi bupatiSeperti diungkapkan politikus PAN Hanafi Rais. Anggota DPR RI tersebut mengatakan langkah bersama perlu ditunjukkan. Itu untuk membuktikan bahwa so-liditas partai pengusung Pasangan Prabowo-Hatta dalam pemilihan presiden bisa langgeng. “Kami ingin mengubah stigma di masyarakat. Meski berada di luar pemerintahan, koalisi yang dibangun bisa bersifat permanen dengan tujuan visi misi yang sama,” kata Hanafi saat melaku-kan reses di Wonosari belum lama ini.
Putra sulung Amien Rais itu mengakui keberadaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 1/2014 tentang Pilkada menjadi ujian untuk soliditas anggota KMP. Sebab, tidak bisa dipungkiri aturan tersebut menimbulkan pro dan kontra di internal partai. “Pro dan kontra itu tetap ada. Untuk pastinya kita tunggu saja hasilnya seperti apa? Yang jelas, rapat pembahasan perpu akan dilakukan di pertengahan Januari tahun depan,” terang Wakil Ketua Komisi I DPR RI itu.
Apakah kemudian nanti perpu diterima atau ditolak, pihaknya tetap berharap agar anggota koalisi tetap solid. Bukti dari ke-kompakan itu dapat dilihat dari calon yang diajukan dalam pilkada. “Kalau dipilih di dewan kan sudah jelas. Namun untuk pemilihan langsung harus benar-benar ada komunikasi aktif supaya calon satu itu bisa diwujudkan dan disepakati bersama,” ujarnya.
Alternatif lain supaya KMP tetap solid adalah dengan jalan power sharing atau bagi-bagi kekuasaan. Salah satunya dengan membagi calon yang diusung dalam pil-kada. Namun, pembagian harus sesuai dengan porsi dan kekuatan partai. “Misalnya di Gunungkidul, PAN memiliki kekuatan yang tinggi sehingga nanti calon yang diusung berasal dari partai kami. Bisa diterapkan juga di daerah lain,” ujarnya.
Wakil Ketua DPW PAN DIJ Nazarudin melanjutkan bagi-bagi kekuasaan bertujuan untuk mengurangi biaya politik. Ber-dasarkan pengalaman tahun lalu, sering kali partai tersandera oleh kepentingan orang berduit, sehingga merekalah yang maju dalam pilkada. “Jadi, calon yang diusung bukan karena punya duit banyak tapi lebih mengedepankan kapasitas dan integritas,” kata Nazarudin.Namun demikian, meski nanti calon hanya satu masing-masing partai tetap dapat mengusulkan calon sendiri. Akan tetapi siapa yang maju dalam pilkada akan diputuskan dalam rapat antara DPP partai pen-dukung KMP. (gun/ila/ong)

Breaking News