DWI AGUS/RADAR JOGJA

KIRANA MUSTATEKADANO: Penampilan jurusan teater ISI Jogja membawakan lakon Blind Travel di Gedung Concert Hall ISI. Seluruh jurusan ikut menampilkan kreasinya.

BANTUL – Peran Fakultas Seni Perunjukan (FSP) ISI Jogjakarta dalam dunia seni per-tunjukan di Jogjakarta cukup besar. Maha-siswa maupun lulusannya pun telah me-warnai dunia kreasi seni di Jogjakarta. Perwujudan ini pun diwujudkan dalam sebuah acara bertajuk Kirana Mustateka-dano (9/12).
Acara ini digelar di Gedung Concert Hall ISI Jogjakarta dengan menampilkan enam jurusan di FSP. Setiap jurusan hadir dengan karya sesuai konsentrasi disiplin ilmu. Mu-lai dari teater, pedalangan, tari, musik, ka-rawitan dan etnomusikologi.Dekan FSP ISI Jogjakarta I Wayan Dana mengungkapkan, akademisi ISI tidak hanya berkutat dalam ilmu teori saja. Selain itu juga memiliki kewajiban untuk terus ber-karya secara riil. Termasuk dalam karya cipta seni sebagai wujud proses pembela-jaran.”Juga menjawab tantangan global yang semakin tinggi. Sangat diperlukan kerja keras semua pihak baik itu dosen maupun mahaiswanya. Karya-karya ini pun tidak hanya terkurung dalam ruang kelas saja, tapi harus dipertontonkan ke khalayak umum,” kata I Wayan Dana.
Proses pembelajaran ini, menurut Way-an, juga turut melingkupi penilaian ma-syarakat. Sebagai sebuah ilmu, seni ten-tunya juga bersinggungan dengan masy-arakat. Bagaimana seni mempengaruhi masyarakat dan dinamika masyarakat mempengaruhi seni.Penilaian dari masyarakat ini, bagi Wayan, sangatlah penting. Selain wujud dari seni yang dipertontonkan, juga dapat menjadi sebuah tolok ukur dalam berkarya. Ini juga bersinggungan dengan visi misi FSP ISI Jogjakarta sebagai Center of Excellence Perfoming Arts.”Pengaruhnya tentu saja terhadap kom-petensi, baik karya maupun penciptanya. Sehingga mahasiswa tidak hanya berstatus mahasiswa, tapi juga menjadi seorang se-niman,” kata Wayan.
Jurusan Musik membawakan Fatamor-gana dengan komposer Haris Natanael. Jurusan Tari menampilkan karya berjudul Kidung Jagad karya dari Dindin Heryadi. Tampil dengan tradisi Jawa, Jurusan Kara-witan menampilkan Kidung Kantaman karya Sunyata.Jurusan Etnomusikologi pun membawa-kan dua buah repertoar musik. Repertoar pertama berjudul Atmanastuti yang diba-wakan Dr I Wayang Senen, SST, M.Hum.
Sedangkan repertoar kedua dibawakan Haryanto yang berjudul Sekarjagad.”Komposisi ini diilhami dari sebuah motif batik gaya Jogjakarta yaitu Sekar Jagad. Disajikan dengan iringan gamelan Selonding, sehingga nuansa Jawa dan Bali menyatu dalam alunan musik,” kata Haryanto.Pementasan ditutup dengan penampilan jurusan Teater. Kali ini para penggawa tea-ter ISI Jogjakarta membawakan lakon ber-judul Blind Travel. Tentunya dengan me-nyajikan olah peran dan bahasa tubuh yang apik. (dwi/laz/ong)

Breaking News