DWI AGUS/RADAR JOGJA

KELAS ANTI KORUPSI: Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) tahun ini telah memasuki gelaran kelima. Pada Kelas Anti Korupsi yang digelar mendatangkan Herry Zudianto.

Dikemas Layaknya Kemah Pelajar

BANTUL – Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) tahun ini telah mema-suki gelaran kelima. Dalam penye-lenggaraanya tahun ini, konsep yang diusung semakin matang. Even ini mampu mengajak para pelajar ber-bicara melalui media film.Direktur FFPJ Eni Puji Astuti meng-ungkapkan FFPJ tidak menitikberat-kan pada festival.
Namun bagaimana membangun sebuah suasana yang lebih dari kompetisi, di mana terjadi sebuah pertukaran ide dan khazanah daerah terutama dalam dunia film. “Bagaimana para pelajar ini men-jadi lebih aktif dalam dunia sosial. Termasuk berbicara dalam media film. Apalagi saat ini atmosfer perfilman pelajar sangat menggembirakan,” kata Eni, kemarin (13/12).
FFPJ tahun ini dikemas layaknya kemah film pelajar. Bertempat di Pon-dok Pemuda Ambar Binangun, Kasi-han, Bantul acara dikemas dalam berbagai sesi. Seperti Kelas Anti Ko-rupsi yang hari itu mendatangkan mantan Wali Kota Jogja Herry Zudi-anto (HZ).Dalam kesempatan ini HZ menja-barkan pentingnya untuk berbuat jujur.
Bahkan kejujuran adalah harta yang paling berharga dan wajib dijaga. Ini karena terkait dengan moral pri-badi yang menopang moral bangsa.Apalagi bagi seorang pemimpin, ke-jujuran adalah hal yang mutlak. Tidak hanya sebagai petinggi secara konsti-tusional. Seorang pemimpin menurut-nya merupakan contoh dan panutan bagi bawahannya. Dengan membangun atmosfer kejujuran maka segala tinda-kan akan lebih bermakna. “Memang menjadi orang yang jujur itu sangatlah sulit. Apalagi jika ketidak-jujuran dan korupsi sudah mewabah. Kita seperti melawan sebuah budaya salah yang kuat. Sehingga perlu kegigi-han dan keteguhan hati,” katanya.
HZ menambahkan dengan menjadi contoh maka akan melahirkan teladan ke bawahnya. Dirinya mengibaratkan seperti efek bola salju. Sehingga dengan memberi contoh baik akan terjadi efek yang besar dan positif ke depannya.Selain kelas anti korupsi, FFPJ kali ini juga hadir dengan program lainnya. Seperti Kelas Lensa Perempuan, Ke-las Riset Film dan Forum Pendidik. Dalam kelas Lensa Perempuan, juga mengajak para sineas muda ini untuk terbuka dalam berpikir. “Selama ini stigmanya perempuan hanya menjadi objek film. Padahal peran perempuan itu sangatlah besar. Bahkan beberapa film nasional hing-ga internasional turut diproduksi oleh sineas perempuan,” katanya.
FFPJ 2014 mampu menjaring seba-nyak 162 karya film dari seluruh pelosok Indonesia. Film-film ini terbagi dalam beberapa kategori seperti Dokumenter, Fiksi dan Video Musik. Selain itu ada-pula penghargaan tambahan berupa Bung Hatta Anti Coruption award.Dari seluruh film ini telah terselek-si sembilan film documenter, sepuluh film fiksi dan enam video musik. Awar-ding akan dilakukan Minggu (14/12) di Pondok Pemuda Ambar Binangun, Kasihan, Bantul. (dwi/ila/ong)

Breaking News