GUNTUR AGA TIRTA/RADAR JOGJA
MELAWAN KORUPTOR:Salah seorang peserta kirab budaya gropyokan korupsi memukul moncong tikus sebagai ajakan untuk melawan korupsi dan menindak tegas para koruptor, kemarin (9/12).

Perangi Korupsi Mulai Diri Sendiri

JOGJA – Banyak cara untuk melawan atau menyuarakan antikorupsi. Salah satunya dengan kirab budaya dan konser musik. Itulah yang tersaji dalam memperingati hari Anti-korupsi Internasional, 9 Desember, kemarin, di Jogja. Kirab budaya gropyokan digelar di sepanjang Jalan Solo (Star Halaman LPP) hingga lapangan Kridosono, Selasa (9/12). Mengambil tema Korupsi adalah Kita, acara yang dihadiri Komisioner KPK Busro Muqodas ini, ber langsung meriah.
Sedikitnya 30 kontingen mengikuti acara tersebut. Mereka terdiri dari seniman, ko-munitas, lembaga pemerintahan, keamanaan negara, tukang becak, masyarakat sipil, dan pasukan penjaga keraton (bregodo). Tak ketinggalan, juga ada arak- arakan dari TNI, Polri, dan kelompok amal. Busro mengatakan, gerakan pemberantasan korupsi harus dilakukan. Caranya, bisa di mulai dari diri sendiri. Menegakkan integritas, kejujuran, kesederhanan, sikap tolong me-nolong, dan berbuat kebaikan, merupakan langkah awal dalam pembentukan mental anti korupsi. “Selama ini banyak dari kita terbelenggu dalam praktik- praktik korupsi. Meski begitu, di luaran sana, masih banyak orang- orang jujur, termasuk PNS yang sering dikatakan banyak dari mereka yang korupsi,” tegasnya.
Sementara itu Panitia Gropyokan 2014 Agung Leak Kurniawan mengatakan, kirab budaya atau iring- iringan kemarin menempuh jarak sekitar 1,6 km. Start dimulai dari depan Wisma LPP, Jalan Solo, Jalan Sudirman, Perempatan Gramedia, Jalan Suroto, dan berakhir di lapangan Kridosono. Berbeda dengan acara peringatan hari korupsi yang diselenggarakan KPK di Gedung Graha Sabha UGM yang hanya dikhususkan untuk kegiatan pameran, festival anti korupsi berbasis seni dan budaya (Gropyokan) ini seratus per-sen inisiatif warga dan seniman. “Di sini kami mencoba merangkul seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi. Kami ingin menyuarakan gerakan anti korupsi dengan tak hanya untuk orang-orang tua, tapi juga kawula muda, remaja, bahkan anak-anak,” ujarnya.
Dalam arak- arakannya tersebut, masing- masing kontingen menampilkan potensi yang mereka miliki. Mulai dari perform art yang diiringi musik dangdutan, gamelan, tari-tari-an, hingga arak-arakan patung tikus setinggi 3,5 meter dan iringan anak- anak kecil pem-bawa sapu. “Keberadaan patung tikus merupakan simbol dari adanya kebudayaan dan perilaku yang korup. Banyak sekali pencuri, penjahat (korup-tor) yang digambarkan sebagai tikus. Sedangkan anak- anak pembawa sapu, merupakan simbol dari generasi pembersih,” ujar Panitia Gropyokan Korupsi, Marzuki Muhammad.
Dijelaskan, patung tikus sebenarnya merupakan simbol “Korupsi adalah Kita”. Panitia meng-anggap, secara tidak sadar kebudayaan telah melanggengkan dan membesarkan korupsi, sehingga melahirkan sikap permisif, pater-malistik, feudal, dan acuh tak acuh. “Patung tikus ini juga menggambarkan, bahwa kita ini tidak hanya terjebak adalam perilaku korup, tapi juga bagian dari pembesaran budaya. Sehingga bisa dibilang keberadaan patung tikus sebagai refleksi dan kritik terhadap diri sendiri,” terangnya.
Tak hanya patung tikus yang menjadi ikon dalam acara tersebut, penggunaan topeng tikus saat nonton konser, turut sebagai penanda gerakan anti korupsi tahun ini. “Sama seperti patung, makna topeng tikus juga demikian. Artinya mari bersama- sama melawan korupsi,” ajaknya.Juki menambahkan, alasan mengapa meli-batkan anak-anak, sebenarnya untuk menya-darkan para orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Bahwa hak anak dalam mendapat-kan informasi dan pendidikan, baik perilaku, budipekerti, terkadang tercampur dengan praktik budaya orang dewasa yang secara tidak langsung memperkenalkan budaya korup.
Menurutnya, budaya-budaya inilah yang seharusnya dibersihkan. Caranya dengan memberikan pengarahan ataupun partisipasi langsung dengan mengikutsertakan mereka dalam gerakan anti korupsi. Selain kirab, festival ini juga diisi dengan pembacaan proklamasi rakyat anti korupsi dan dilanjutkan konser musik yang di meriahkan oleh band-band lokal dan nasional, seperti Sangkakala, Shaggy Dog, Jogja Hip Hop Foun-dasion, Superman is Dead, Navicula, dan Gigi. Dalam pembacaan proklamasi, para kontigen menyuarakan tiga hal. Korupsi bagian dari budaya, janji memerangi korupsi dari diri sendiri dan keluarga, dan menjadikan korupsi sebagai musuh bersama.Tak hanya properti serba tikus yang menjadi keunikan gropyokan, juga acara ngetwitt bareng pada saat konser. Mereka bersama- sama mengampanyekan gerakan anti korupsi, tepat pukul 21.00 (sembilan malam). (cr/jko/ong)

Breaking News