Dapati Aset Masih Bebas Berkeliaran

SLEMAN – Rico Joe, 38, ber-sama tiga rekannya yang men-jadi korban kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang dilakukan mantan ketua FPI Jateng-DIJ Bambang Tedi (BT) bersama istri Sebrat Har-yanti (SH), merasa janggal dengan fakta hukum yang terungkap dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sleman.
Rico mengatakan, proses pe-radilan terhadap BT terkesan ada yang disembunyikan. Di-contohkan keberadaan empat mobil mewah yang diduga hasil dari pencucian uang dalam ka-sus ini. Mobil-mobil tersebut tidak disita dan tidak disebutkan dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU). “Di dalam TPPU dikenal reco-very asset. Saat proses penyidikan di Polda DIJ, saya sudah beri informasi ke penyidik tentang aset milik BT yang diduga hasil TPPU. Tapi ternyata tidak di-tindaklanjuti. Bahkan tidak di-munculkan dalam dakwaan,” kata Rico, kemarin (8/12).
Informasi yang sudah disam-paikan ke penyidik Polda DIJ saat itu, dicurgai tidak ditinda-klanjuti. Padahal saat itu, ia berharap agar proses hukum bisa berjalan dengan baik dengan meneruskan informasi yang disampaikannya. Termasuk soal pemulihan nilai kerugian materi yang dialami Rico dan tiga rekannya, Alex, Deni dan Irwan, senilai Rp 11,5 miliar. Rico menyebutkan ada empat mobil mewah milik BT yang se-jauh ini belum diketahui secara pasti keberadaannya. Mobil ter-sebut antara lain New-CRV, Por-che, Hammer, dan Honda Accord. “Informasi yang kami peroleh, mobil-mobil itu dibeli setelah BT menipu kami dalam jual beli tanah tahun 2012 lalu,” tandasnya.
Kuasa hukum Rico, Aprillia Su-paliyanto menambahkan, terdapat kejanggalan terkait proses hukum ini. Apalagi, dalam kasus ini, pena-hanan hanya berlaku untuk BT. Sedangkan istrinya hanya dikenai sebagai tahanan kota. “Dengan tidak ditahannya SH, kami menilai ada cukup ruang dan waktu untuk mengalihkan sejumlah aset yang seharusnya menjadi barang bukti,” ujarnya. Menurut Aprillia, dirinya pernah meminta kepada Polda DIJ agar segera melakukan penggeledahan dan penyitaan. Itu berdasar atas informasi aset milik BT yang di-duga berasal dari hasil TPPU. Per-mintaan itu bertujuan agar barang tersebut bisa digunakan sebagai kompensasi ataupun jaminan kerugian para korban.
“Harapan kami, selain sebagai barang bukti untuk penguat proses hukum, jika telah disita penyidik, tentunya barang-barang itu bisa jadi kompensasi, atau jaminan kerugian bagi kami,” ujarnya. (fid/jko/ong)

Breaking News