Memori Banding Setebal 192 Halaman Sudah Diserahkan

SLEMAN – PSS Sleman mendapatkan angin segar dalam upayanya melakukan banding atas tuduhan skandal sepak bola gajah kontra PSIS Semarang pada laga terakhir Delapan Besar Di-visi Utama 2014 Grup N 26 Oktober lalu. Setelah melakukan kajian, Komdis dinilai meng-gunakan dasar hukum yang tidak tepat dalam menjerat para awak PSS Sleman maupun PSIS Semarang.
Ketua tim kuasa hukum Super Elang Jawa (Su-per Elja) Achiel Suyanto mengatakan, dalam Surat Keputusan (SK) yang diterbitkan Komdis beberapa waktu lalu, Hinca Pandjaitan dkk me-makai pasal 118 Kode Disiplin PSSI. Padahal pasal tersebut bukan mengatur soal pelanggaran fair play yang dilakukan pemain, melainkan pro-ses awal persidangan yang dilakukan Komdis.
Karena itulah, kata Achiel, peluang diperingan-nya sanksi awak PSS oleh Komisi Banding (Kom-ding) PSSI sangat besar. Terlebih lagi, sesuai fungsinya, Komding adalah badan peradilan yang bertugas membenahi ketidaktepatan sanksi dari Komdis.”Makanya dari awal saya katakan kalau dihu-kumnya banyak awak PSS bukanlah kiamat bagi mereka. Bila dilihat dari SK-nya kan jelas sekali ada kesalahan yang dilakukan Komdis. Ini tentu jadi celah bagi para awak PSS mendapat kering-anan hukuman dari Komding,” tegasnya kemarin (3/12).
Achiel menambahkan, tim kuasa hukum Super Elja sudah melayangkan memori banding ke Jakarta. Memori banding ini mencapai 192 ha-laman.Untuk satu orang saja, tim hukum membuat memori banding yang banyaknya enam sampai tujuh halaman. Adapun total awak PSS yang di-hukum Komdis berjumlah 24 orang, meliputi pemain, pelatih, assisten pelatih dan dua orang pengurus.
Arbiter olahraga berpengalaman ini menyatakan seandainya nanti keputusan Komding mengecewakan, para awak PSS masih memiliki banyak jalur. Langkah paling mudah adalah mengajukan Peninjauan Kembali (PK) kepada Ketua Umum (ketum). Cara ini sendiri sudah diatur dalam Kode Disiplin PSSI.
Jika PK mental, PSS masih bisa mengajukan banding ke Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI). Langkah terakhir ialah melayangkan revisi hukuman ke Badan Arbitrase Olahraga Internasional, CAS.”Langkah yang ditempuh ini masih sangat ba-nyak. Namun saya berharap banding ke Komding PSSI sudah sukses,” tukasnya.
Sesepuh sepak bola Sleman Sukidi Cakrasu-wignya sekali lagi menyatakan harapannya agar sanksi bagi para awak PSS terutama pemain benar-benar tereduksi. Sebab biar bagaimanapun sepak bola merupakan mata pencaharian mereka.
Pria yang akrab disapa Mbah Kidi ini menya-takan seandainya pemain-pemain lama ini menda-patkan remisi hukuman, pintu untuk mereka di PSS tahun depan jangan sampai ditutup. Biar bagaimanapun mereka tetap memiliki hak mem-bela PSS. Termasuk penggawa-penggawa yang dinyatakan sebagai eksekutor. Bila sanksi seumur hidup mereka diubah ke hukuman percobaan atau malah mendapat pen-ghapusan hukuman, tidak ada salahnya mana-jemen PSS musim depan tetap memberi kesem-patan.
Sebagai catatan, hanya ada empat pemain PSS yang tidak disanksi Komdis yakni dua penjaga gawang Ali Barkah dan Herman Batak, Ade Chris-tian, serta Dicky Prayoga. Keempat pemain ter-sebut tidak tercantum dalam Daftar Susunan Pemain (DSP) laga lawan PSIS. (nes/din/ong)

Breaking News