YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
SIKAP TEGAS : Kepala Dinas Kesehatan Sleman Malfilindati Nuraini dan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Pustopo saat melakukan inspeksi mendadak di Pasar Sleman kemarin (2/12).

Beredar di Pasar-Pasar Tradisional

SLEMAN- Mi mengandung formalin ternyata masih banyak beredar di pasar-pasar tradisional di Sleman. Ironisnya, pedagang selalu menggunakan jurus klasik “tidak tahu” asal-usul mi tersebut. Mereka beralasan sekadar menerima setoran saja. Ini pula yang didapati Tim Terpadu Pemantauan Bahan Berbahaya (TPPBB) Sleman saat melakukan inspeksi di Pasar Sleman kemarin (2/12).
Selain mi ber-formalin, tim juga menemukan pewarna tekstil yang mengandung rhodamin B pada kerupuk dan rengginan.Dua zat itu diketahui dari uji cepat la-boratorium oleh petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ. Beberapa jenis makanan yang diuji di antaranya, mi, buah-buahan, kerupuk, jajanan pasar, cendol, dan camilan.
“Mi basah positif formalin. Ini bisa menyebab-kan kanker jika dikonsumsi dalam wak-tu lama,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Sleman Mafilindati Nuraini.
Dampak makanan mengandung zat ber-bahaya memang tidak bisa dirasakan langs-ung dan tidak dapat diprediksi efek sam-pingnya. Karena hal itu tergantung kuanti-tas dan kualitas seseorang mengonsumsi makanan dengan zat bahaya tersebut.
Mafilindati menengarai masih banyak makanan mengandung zat bahaya bere-dar di pasar-pasar lain. Untuk menghin-dari makanan dan minuman tersebut, masyarakat bisa mengenali ciri-ciri fisiknya. Misalnya, warna yang terlalu cerah atau tekstur kenyal dan sangat renyah. Bau juga menjadi indikator penting sebelum membeli makanan. Produk berbahan bahaya biasanya baunya lebih menyengat. Kepala Dinas Perindustrian, Perda-gangan, dan Koperasi Pustopo menga-takan, pemkab berencana lebih mem-perketat pengawasan untuk mencegah peredaran makanan dan minuman dengan kandungan zat beracun. “Kami akan te-lusuri sumbernya,” ujarnya.
Maraknya mi formalin cukup membuat prihatin lantaran biasanya muncul pada momen-momen tertentu. Misalnya, saat menjelang perayaan hari raya. Faktanya, mi formalin menjadi produk harian yang dijajakan di pasar. “Kami akan koordinasi dengan Pemda Magelang supaya pemasok Pernyataan Pustopo setidaknya dilan-dasi pengakuan Warsih, 54, penjual mi basah. Warsih mengaku mendapat pa-sokan produk berbahan baku tepung terigu berwarna kuning itu dari Magelang. “Saya hanya terima saja. Kalau tidak laku, ya, diambil lagi sama yang setor,” dalih-nya. (yog/din/ong)

Breaking News