Respons Sering Terjadi Bencana

BANTUL – Dengan mempertimbangkan berbagai hal, status Pos Search and Rescue (SAR) DIJ ditingkatkan menjadi Kantor SAR Kelas B. Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI FH Bambang Soelistyo menegaskan, provinsi DIJ sudah layak memiliki Kantor SAR.
Di samping itu, di DIJ kerap terjadi bencana secara periodik. “Contohnya Gunung Merapi. Hampir setiap empat tahun sekali menghadapi hal yang mirip. Lalu gempa bumi, kemudian kecelakaan-kecelakaan kecil di laut,” terang Soelistyo usai acara peresmian Kantor SAR DIJ di Jalan Wates KM 11, Sedayu, Bantul, kemarin (21/10).
Dengan adanya Kantor SAR ini Soelistyo berharap koordinasi penanganan hingga progres melengkapi berbagai peralatan kebencanaan dapat dilakukan dengan mudah. Keberadaan Kantor SAR, kata Soelistyo, juga sebagai upaya pemerintah menjamin keselamatan setiap warga negaranya. “Dengan adanya Kantor SAR ini kami juga bisa berkiprah membangun kemampuan dan kekuatan sekaligus,” ujarnya.
Soelitsyo menyebutkan, ada 34 Kantor SAR di seluruh Indonesia. Bahkan di Provinsi Papua terdapat dua Kantor SAR. Saat ini, provinsi yang belum memiliki Kantor SAR adalah Kalimantan Tengah. “Targetnya pada 2015 di seluruh provinsi ada Kantor SAR,” tegasnya.
Lalu, bagaimana dengan perlengkapan peralatan Kantor SAR DIJ? Soelistyo menguraikan, kelengkapan peralatan serta personil Kantor SAR berdasarkan pada kebutuhan penangananan kebencanaan di DIJ. Seringnya, bencana di DIJ ada tiga jenis. Yaitu bencana letusan Gunung Merapi, bencana bumi, dan kecelakaan laut.
“Juga kru udara. Ini untuk menjaga potensi kecelakaan transportasi udara serta untuk membantu kru yang lain agar response time cepat,” ungkapnya.
Gubernur DIJ Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, keberadaan Kantor SAR semakin mempertegas DIJ sebagai provinsi yang tanggap bencana. Meski begitu, HB X juga meminta agar personel SAR juga dibekali kemampuan dan peralatan yang memadai. “Jangan sampai memberi pertolongan malah menjadi korban,” tambahnya. (zam/din/ong)

Breaking News