FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA

WARNA-WARNI: Alun-Alun Kota Magelang tambah menarik dengan tambahan lampion bertuliskan MGL dan bentuk yang menyerupai simbol cinta (love).

Pro Kontra Lampiondi Alun-Alun

MAGELANG – Pengadaan lampion bertuliskan MGL dan bentuk yang menyerupai simbol cinta (love) di kawasan Alun-alun Kota Magelang menuai reaksi masyarakat. Beragam respons, terkait pe-mandangan anyar warna-warni tersebut langsung ditanggapi. Baik langsung maupun di media sosial (medsos).
Beragam komentar, mulai dari du-kungan terhadap hiasan lampu ter-sebut. Tidak sedikit, ada yang meng-kritik, lantaran kombinasi warna dan bentuknya diniliai kurang artistik. “Lucu mas, ada warna ungu, pink, dan kuningnya. Bikin kesan kalau Magelang itu unyu-unyu. Kalau malam terlihat meriah dan gemerlap,” ungkap Septi Dwi, pelajar, 17, kemarin (21/10).
Pelajar lainnya, Larasati, 17, me-nambahkan, kesan adanya aneka warga dan bentuk yang kurang artistik justru membuat lingkungan Alun-alun jadi kurang bagus. Lebih lagi, tulisan “Magelang” sudah terpampang jelas dengan desain mentereng di samping simbol baru tersebut. Karenanya, kata “Magelang” tidak perlu ada lagi
“Di sini kan sudah ada tulisan Magelang, kok ini ditambahi lampu lampion dengan tulisan MGL, kesannya jadi tumpuk-tumpuk, tidak rapi,” kritik salah satu siswi SMK Negeri 2 Kota Magelang itu.Seniman sekaligus pengamat lingkungan Kota Magelang Agung Nugroho menyebut, arsitek pem-buatan lampion bertanda “love” dinilai bukan merupakan kreasi seni. Desain pembentukannya bahkan dianggap mengurangi keindahan kawasan alun-alun. “Saya kira pembangunan lam-pion love bukan seni. Itu jadi hak pembuat bila dipasang di tempat privat. Tapi ini bicara alun-alun yang notabenenya milik publik, sehingga pemajangan apapun itu, harus yang terbaik dari yang terbaik,” kritik Agung.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertamanan dan Tata Kota (DKPTK) Kota Magelang Eri Widyo Saptoko menyatakan, membuka lebar masukan dari pengamat maupun warga untuk mengomentari kreasi yang diciptakan jajarannya tersebut. Ia memastikan dana pengadaan simbol ini bukan termasuk proyek yang berasal dari APBD Kota Magelang. “Itu murni kreasi teman-teman. Sebagai langkah uji coba dipasang dulu, tapi kalau tanggapannya tidak bagus, konotasinya negatif, ya dicopot saja,” elaknya.
Ia menambahkan, kendati ha-silnya belum memenuhi harapan masyarakat, upaya dari Pene-rangan Jalan Umum (PJU) DKPTK setempat perlu diapresiasi. Le-bih lagi, dalam membuat satu lampion, hanya memanfaatkan besi-besi bekas dan penambahan bahan lain secara swadaya.
“Tujuan utamanya ingin menga-jak warga mencintai Kota Mage-lang. Tidak ada maksud apa-apa. Kami hanya ingin mengejawan-tahkan simbol-simbol karya seni dengan mencintai Magelang. Supaya tidak melulu bersifat redaksional,” katanya memberi alasan. (dem/hes/ong)

Breaking News