HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA

MEMUDAHKAN PENGUKURAN: Tim P2B2 dibantu warga setempat saat memasang patok penghubung koordinat areal calon bandara, kemarin (20/10).

Tentukan Titik Hubung Antarkoordinat

KULONPROGO – Tim Persiapan Pembangunan Bandara Baru (P2B2) mulai memasang patok batas garis terluar calon areal bandara. Lokasi yang dipasangi patok meliputi empat desa di Kecamatan Temon, kemarin (20/10).
“Pemasangan patok di empat desa itu lantaran akan segera dilakukan proses pengurangan lahan untuk pembangunan bandara,” terang Anggota Tim P2B2 PT Angkasa Pura (AP) I Eko Bambang disela pemasangan patok.
Bambang mengatakan pemasangan patok itu dilakukan setelah ada pengurangan lahan bandara. Adapun proses pemasangan patok dilakukan di Desa Kebonrejo, Palihan, Sindutan dan Jangkaran. Hal itu diperlukan untuk mengetahui batas garis terluar sehingga warga yang terdampak mengetahui jumlah lahannya.
“Ini sebetulnya bukan patok, tapi penentuan titik hubung antarkoordinat dengan tanda patok. Ada 50 patok yang dipasang di Palihan ke selatan hingga perbatasan Kragon, Kebonrejo sampai perbatasan Glagah dan di Sindutan sampai Jangkaran,” katanya.
Bambang menjelaskan penentuan titik hubung menggunakan patok itu memenuhi permintaan para kepala desa yang sempat mengirimkan surat secara resmi kepada tim. “Sebelumnya hanya ada patok di titik-titik koordinat yang jaraknya barjauhan sehingga kepala desa kesulitan menentukan tanah yang di tengah yang akan terkena bandara,” jelasnya.
Jadi, sambung Bambang, apa yang dilakukan sekarang tujuannya supaya tidak menyimpang dari garis lurus antar titik koordinat yang sudah diukur dulu. “Jadi ini hanya garis bantuan batas terluar saja,” katanya.
Menurut Bambang pemasangan patok sebetulnya tidak ada dalam rangkaian pekerjaan persiapan. Karena pematokan seharusnya ada di tahap pelaksanaan sekaligus mematok per bidang. “Ini hanya menyanggupi permintaan para kades,” ujarnya.
Proses pematokan juga melibatkan sekitar sepuluh orang warga setempat. Diterangkan, pada awalnya, pengurangan lahan semula diperhitungkan 50 hektare namun berubah menjadi sekitar 39 hektare.
Rinciannya, dari 37 hektare di kawasan situs Gunung Lanang di Sindutan ke barat hingga Jangkaran. Ditambah kawasan pintu masuk bandara di tepi jalan nasional di Palihan seluas 2,7 hektare.
Kades Sindutan Radi mengamini jika tidak dipasang patok, proses pendataan yang dilakukan pemerintah desa mengalami kesulitan, lantaran jarak titik-titik koordinat yang sudah ditandai terlalu jauh. Ditanya terkait sikap warga, Radi menyatakan pro dan kontra itu pasti ada tetapi sementara ini masih kondusif. Sikap setuju atau tidak nantinya akan disampaikan dalam tahap konsultasi publik.
“Karena belum tentu diam itu setuju, sampai sekarang harga tanah belum muncul. Misal harga terlalu rendah ya bisa saja tidak setuju,” ujarnya. (tom/ila/ong)

Breaking News