Frietqi Suryawan/Radar Jogja

SANGAT SULIT: Reaktivasi jalur kereta api di Kebonpolo dan Kedungsari di Kota Magelang oleh PT KAI diperkirakan akan menemui banyak hambatan. Lokasi milik KAI tersebut banyak dimanfaatkan warga.

Satu di Kota, Dua di Kabupaten

MAGELANG – Ada tiga lokasi yang digadang-gadang untuk dihidupkan lagi atau reaktivasi rel kereta api kereta api di Magelang. Yaitu, eks-Stasiun Kebonpolo, Magelang, Trasan di Bandongan dan Banyuurip Tegalrejo. Kedua tempat terakhir berada di Kabupaten Magelang.
Semua itu merupakan hasil kajian sementara yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI), pemerintah, dan masyarakat.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Magelang Joko Suparno mengatakan, ada tiga titik yang dirujuk untuk dilakukan reaktivasi. Alternatifnya, bila stasiun berada di Kota Magelang, rel kereta yang dilakui pun akan berada di tengah kota.
“Kalau berada di Kebonpolo, aritnya itu menggunakan lagi lahan PT KAI. Tapi kalau di tempat lain, kemungkinan akan ada pembebasan lahan,” kata Joko kemarin (20/10). Sebelumnya, Joko juga aktif mengikuti diskusi soal reaktivasi kereta api.
Joko berharap, sebelum program tersebut dilaksanakan, perlu dilakukan inventarisasi lahan-lahan milik PT KAI. Terutama yang ada di Kota Magelang. Langkah ini agar tidak menimbulkan gejolak sosial. Lantaran, saat ini banyak lahan PT KAI dimanfaatkan untuk permukiman warga.
“Sejauh ini, kami meminta supaya ada kajian milik PT KAI supaya tidak menimbulkan masalah sosial. Termasuk melibatkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk menentukan aset-aset terdahulu,” paparnya.
Selain pengukuran, ia juga menyarankan dilakukan sosialisasi dan kompensasi pada masyarakat yang terkena imbas dari reaktivasi tersebut. Apalagi tidak sedikit bangunan pemukiman yang ada di tanah PT KAI, telah dibangun warga secara permanen.
“Secara umum, reaktivasi kereta api ini sangat positif. Tetapi juga harus ada tindak lanjut mengenai kompensasi terhadap masyarakat. Karena tidak sedikit bangunan itu sudah menjadi permanen dan dibuat dari uang yang tidak sedikit,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Magelang Suko Tri Cashyo mengaku, hasil pembahasan rencana reaktivasi rel kereta api di Magelang sudah diserahkan pada wali kota belum lama ini.
Kemungkinan reaktivasi jalur kereta Magelang-Ambarawa menjadi prioritas daripada membangun jalur selatan Magelang-Jogja. Karena rencana ini menjadi wewenang PT KAI Daerah Operasional (DAOP) IV Semarang (Jawa Tengah).
“Koordinasinya juga dengan Dishub Provinsi Jawa Tengah. Sehingga besar kemungkinan sisi utara dulu. Untuk menuju Jogja belum. Saya berharap ada kajian yang mendalam, khusus di sisi selatan, karena di sana banyak sekali aspek sosialnya,” katanya.
Hingga kini, belum ada titik terang ikhwal pembahasan reaktivasi rel kereta api. Namun, ia berharap adanya analisis dampak lingkungan terlebih dahulu sebelum melaksanakan pembangunan.
Sebab, banyak indikasi dampak negatif dan positif yang bakal timbul. Jika reaktivasi benar dilakukan.
“Sangat perlu dilakukan sosialisasi terhadap masyarakat. Mau tidak mau, memang harus ada kajian yang mendalam. Misal, masalah, kompensasi, rencana pembebasan lahan dan lainnya. Terutama pengukuran (tanah) yang melibatkan BPN,” katanya.
Mantan kepala BKD ini mengaku, pada dasarnya upaya reaktivasi rel kereta api merupakan alternatif pengembangan trem untuk mengatasi kemacetan. Dengan alternatif transportasi baru, diharapkan ada kemajuan di sisi transportasi massal maupun angkutan barang. Apalagi, Kota Magelang menjadi tempat favorit truk muatan pasir yang berdampak pada cepatnya kerusakan jalan.
“Selama ini, truk pasir banyak membuat penuaan jalan raya, kemacetan, kecelakaan lalu lintas, dan lainnya. Saya kira dengan reaktivasi kereta api, pasir bisa diangkut dengan kereta. Demikian juga dengan muatan lainnya,” paparnya.
Sebelumnya, santer diberitakan Kementerian Perhubungan memprioritaskan pengembangan kereta lintas kota/provinsi dengan reaktivasi. Reaktivasi rel lintas kota dilakukan untuk kembali mengembangkan Semarang-Jogja dengan kereta.
Wacana kontruksi baru bisa dilakukan sekitar dua-tiga tahun lagi. Karena, tahun depan desain pengembangan baru dilakukan. (dem/hes/ong)

Breaking News