Dwi Agus/Radar Jogja

BUKAN LAGI KLENIK: Pameran keris atau tosan aji ini merupakan bagian dari Pameran Biennale Internasional Bonsai, Seni dan Kebudayaan di Gedung E lantai 2 Museum Gedung Vredeburg (20/10).

JOGJA – Warisan pusaka budaya keris tidak hanya bermuatan klenik. Dalam perkembangannya, keris memiliki berbagai nilai. Ketua Lingkar Kajian Keris Jogjakarta Ki Ageng Pramono mengungkapkan, nilai keris mengalami dinamika.
“Dulu mungkin identik dengan klenik dan kesakralan. Tapi jika dikaji secara mendalam, banyak nilai yang terdapat dalam sebilah keris. Mulai dari nilai filosofi, historis, simbolis, hingga sebuah investasi,” katanya ditemui di Gedung E lantai 2 Museum Gedung Vredeburg (20/10).
Melalui pameran ini, Pramono ingin menghapus bayangan masa lalu tentang keris. Ini agar keris dapat dikenal lebih oleh masyarakat umum. Gerakan ini dilakukan agar keris tidak hanya hidup dan dikenal di satu kalangan.
Pengemasan untuk sebuah pameran juga dikonsep dengan cara yang berbeda. Dengan menggabungkan konsep pameran museum, keris-keris disajikan sebagai sebuah kekayaan. Tentunya tanpa menghilangkan sisi etika dan estetika sebuah pusaka budaya.
Dengan membuka wacana proporsional untuk mengimbangi stigma yang beredar. Pemaknaan sudut pandang baru ini memerlukan pemahaman secara meluas, jangan hanya ditangkap oleh beberapa orang saja.
“Jika terlalu mengikuti pakem, maka kita juga membunuh pelestarian keris itu sendiri. Tapi jika berkembang dengan sudut pandang baru, ini kekuatan. Seperti inilah yang diperlukan untuk sebuah pelestarian,” katanya.
Untuk memantabkan gerakan ini, Lingkar Kajian Keris menggelar kajian rutin. Setiap bulannya, keris terus dibongkar nilai-nilainya. Tidak hanya pecinta keris, juga masyarakat umum dan pakar lintas disiplin ilmu.
Dengan menggelar kajian ini, tabir keris akan terbuka. Wujud nguri-uri kabudayan pun dapat berjalan dengan optimal. Sehingga keris tetap lestari dan tidak menguap dan menghilang dari peradaban budaya.
“Suatu pelajaran juga ketika ada warga asing yang tertarik belajar. Ini dilema, di satu sisi kita bangga, tapi miris ketika generasi bangsa justru tidak berminat,” katanya.
Pameran keris atau tosan aji ini merupakan bagian dari Pameran Biennale Internasional Bonsai, Seni dan Kebudayaan. Ketua pameran bonsai internasional Wisnu Jaka Saputra memang mengusung pusaka budaya ini.
Harapannya saat bersanding dengan pameran bonsai, dapat menjaring peminat baru. Terlebih pameran bonsai diikuti oleh 18 kontingen negara di dunia. Selain menjadi promosi juga mampu memperkenalkan keragaman pusaka budaya Indonesia. (dwi/jko/ong)

Breaking News