HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA

PRODUK LOKAL: Wakil Gubernur Jateng Drs Heru Sujatmiko MSi mengunjungi stan pertanian dan hasil olahan berbahan lokal.

PURWOREJO – Wakil Gubernur Jawa Tengah Drs Heru Sujat-miko MSi meresmikan Rumah Pintar Petani di sela panen raya kedelai di Kecamatan Pituruh, pekan lalu (15/10). Rumah Pin-tar Petani (RPP) pertama di Pur-worejo dikelola Gabungan Kelom-pok Tani (Gapoktan) Mekarsari, Desa Megulunglor, Pituruh.Heru mengungkapkan, RPP bisa dimanfaatkan untuk bermusyawa-rah terkait budidaya, saat panen, penanganan pascapanen, pening-katan kualitas, peningkatan produk, hingga upaya pemasarannya.
Terlebih di Pituruh dikenal se-bagai lumbung kedelai yang butuh dikenal tidak saja oleh petani te-tapi agar untuk masyarakat luas. “RPP bisa untuk pusat promosi, serukan bahwa komoditas kede-lai lokal tak kalah jika dibanding kedelai impor,” ungkapnya.Pada kesempatan tersebut, Heru mengunjungi stan hasil-hasil pertanian dan olahan ma-kanan berbahan baku lokal yang didirikan panitia. Buah semang-ka, pepaya, sayuran, kue pia dari ubi, minuman dari kulit manggis, bronis dari tepung singkong, semua dipamerkan. Heru sempat mencicipi olahan beras jaipong, perpaduan jagung, kedelai, dan singkong yang tanak seperti nasi.
“Jaipong ini harus dibiasakan untuk dikonsumsi. Siapa lagi yang memulai kalau bukan kita. Biasakan juga kepada anak cucu, jangan barang impor saja yang dikenalkan,” selorohnya. Koordinator Penyuluh Per tanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pituruh Nurowati SP menjelaskan, RPP dibentuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penda-patan perkapita dan pemerataan. Sekaligus mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan peningkatan peluang tenaga kerja.
Termasuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan dengan fokus meningkatkan pendapatan petani melalui kemitraan petani dengan badan usaha. Seperti pembiayaan, teknologi, dan kuaitas SDM. Sasarannya ter-wujudnya peningkatan profitas komoditi kedelai dalam kawasan rumah pintar petani.
“RPP befungsi sebagai one stop service bagi petani dalam me-menuhi kebutuhan petani ter-kait budidaya, dan sebagai tempat musyawarah bagi petani dan petugas. Termasuk untuk ber-kegiatan. Seperti penyediaan saprotan dan jasa alsintan, melak-sanakan agribisnis terpadu, bintek pada petani, klinik tanaman, pe-ngolahan hasil, pemanfaatan bio-masa, penggunaan pupuk organik, dan promosi serta jaminan pasar,” jelasnya. (tom/hes/ong)

Breaking News