FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA

PENUH DIALOG:Pentas teater lakon Ledhek Tayub Srinthil dipentaskan dalam berbahasa Jawa. Penonton harus serius mengikuti cerita, karena banyaknya dialog dan minimnya adegan berkelahi dan tarian

Lepaskan Dahaga Masyarakat Magelang

MAGELANG – Pentas teater yang memainkan lakon Ledhek Tayub Srinthil mampu melepas dahaga akan hiburan masyarakat Kota Magelang. Pentas berbahasa Jawa ini memang terasa berat bagi masyarakat awam. Karena lakon tersebut banyak memunculkan dialog, ketimbang adegan perang atau berkelahi dan tarian.”Banyak dialognya. Cukup berat. Mungkin kalau banyak adegan kelahi atau menari, bisa lebih menghibur buat kami yang jarang nonton pentas teater,” ungkap Wiwid, penonton asal Bandongan, Kabupaten Magelang, kemarin (19/10)
Lakon yang dimainkan Men dut Institute (MI) dibawakan di pang-gung terbuka Gedung Kyai Span-jang Kota Magelang, Sabtu ma-lam (18/10). Sekitar 1,5 jam, mereka membawakan cerita yang diangkat dari kisah nyata ter-sebut.Srinthil, oleh Sutradara Teguh Mahesa tidak ditampilkan se-cara nyata di atas pentas. Penari yang digambarkan cantik dan pintar menari ledhek itu dice-ritakan oleh tokoh lain dari orang tua, saudara, pejabat (Ki Demang), Pak Lurah, dan lainnya.
Pesan yang ingin disampaikan adalah perjuangan orang tua Srinthil yang menuntut keadilan dan hak asasi anaknya. Anaknya dinodai putra pejabat, di mana tak ada yang berani melaporkan dan memenjarakannya.”Pak Mingun, orang tua Srinthil marah besar di hadapan Pak Lurah yang tidak berani me-laporkan kejadian ini ke atasan-nya, yakni Ki Demang. Tidak lain karena pemerkosa adalah putra Ki Demang itu sendiri,” ungkap Teguh usai pentas.
Teguh mengakui pentas ini didominasi dialog. Cerita me-ngalir dari awal muncul tiga penari menarikan ledhek tayub. Lalu obrolan di kadipaten, antara putra Ki Demang dan sahabat yang membicarakan Srinthil. Sampai muncul keributan Pak Mingun dengan lurah yang tidak berani membela anaknya , karena takut dengan Ki Demang.
Pentas ditutup dengan adegan Srinthil yang bunuh diri, karena tak kuasa menahan malu dan tekanan batin. Nasib penari ledhek tayub yang kondang ini berakhir tragis, setelah kepe-rawanannya direnggut paksa putra sang pejabat sebelum ia pentas di kadipaten. Kedua orang tua Srinthil me-radang dan menatap kosong nasib yang menimpa putri se-mata wayangnya tersebut. Me-reka hanya pasrah tanpa bisa berbuat banyak, mengingat yang menodai anaknya adalah putra pejabat yang dihormati.
Pimpinan Produksi Munir Syalala mengemukakan, per-siapan pentas lebih dari dua bulan. Relatif singkat, karena sebelumnya pernah dipentaskan di tempat lain dan ada sedikit tambahan fragmen cerita di pe-mentasan malam itu.
“Bersyukur, akhirnya bisa me-mentaskan ini di Kota Magelang. Ini pertama kalinya kami pentas di sini dengan sambutan luar biasa. Arena pentas hampir penuh dan cukup puas dengan sam-butan penonton,” katanya.
Inti pentas ini, katanya, upaya menuntut keadilan atas terno-dainya Srinthil oleh putra sang pejabat. Walaupun itu anak dari pejabat atau orang kaya, tetapi harus mendapat hukuman setimpal. “Meski begitu, inter-pretasi dan penilaian diserahkan sepenuhnya ke penonton yang telah menyimak cerita ini,” kata Munir. (dem/hes/ong)

Breaking News