Bulan Oktober Rentan Penyelundupan Imigran Gelap

WONOSARI – Kejahatan people smuggling atau penyelundupan manusia melalui jalur perairan menjadi perhatian serius penjaga keamanan wilayah Gunungkidul. Berbagai upaya pencegahan tengah dilakukan saat ini.
Berdasarkan data kepolisian, pada tahun 2011 menangkap sebanyak 17 imigran gelap asal Afganistan. Mereka digerebek di sebuah hotel Kukup Beach Nature Inn di dekat Pantai Kukup, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. Kemudian Oktober 2013 petugas kembali mengamankan 30 imigran gelap, di antaranya berasal dari Somalia sebanyak 11 orang, Myanmar 5 orang, Pakistan 13 orangdan Eritrea satu orang.
Mengantisipasi terjadinya kasus itu, Kapolres Gunungkidul AKBP Faried Zulkarnain terus melakukan pemantauan di darat dan laut. Kegiatan yang dilakukan masih bersifat preventif, dengan peningkatan patroli pantai.
“Selain terus melakukan giat patroli, kami juga melakukan bimbingan penyuluhan terhadap warga di pesisir pantai. Tujuannya memberikan pemahaman akan bahayanya penyelundupan manusia,” kata Faried, kemarin (17/10).
Dia menjelaskan ada enam kecamatan yang berpotensi menjadi jalur penyelundupan manusia, yakni Kecamatan Purwosari, Panggang, Saptosari, Tanjungsari, Tepus dan Girisubo. Sebab kondisi geografis wilayah DIJ, khususnya Gunungkidul merupakan jalur strategis. “Bila masyarakat mengetahui atau mencurigai adanya praktik penyelundupan imigran, maka segera laporkan,” katanya.
Sementara itu, Kasat Polair Polres Gunungkidul AKP Irianto mengatakan bulan ini musim penyelundupan imigran gelap. Berdasarkan pengalaman, kepolisian kerap berhasil membongkar di bulan Oktober.
Kenapa Oktober? Irianto menjelaskan bahwa di bulan tersebut nelayan tengah mengalami krisis ikan karena gelombang tinggi. Nelayan tidak bisa melaut dan menggantungkan hidup sebagai petani maupun buruh bangunan. “Dalam situasi ini, penduduk lokal bisa dimanfaatkan untuk ikut membantu penyelundupan manusia dengan janji upah menggiurkan,” ujarnya.
Menurut Irianto mata rantai kasus perdagangan manusia sulit dibongkar, karena menggunakan model memutus jaringan. Diantara mereka tidak saling kenal sehingga sepanjang proses penyelidikan, kepolisian kesulitan mengungkap otaknya.
“Kebanyakan dari Timur Tengah. Untuk mencari suaka ke pulau Christmas, Australia. Mereka (imigran gelap) melalui perairan Gunungkidul,” terangnya.
Rute yang biasa diambil oleh para imigran biasanya datang menggunakan jalur darat, kemudian menuju pantai yang telah ditentukan sebelumnya. Nah, di sini peran penyelundup dimulai. Jauh-jauh hari sudah melakukan pemantauan termasuk mencari bantuan penduduk lokal untuk menyiapkan perahu maupun penginapan. “Jika berhasil membawa imigran gelap ke tengah laut untuk dioper ke kapal besar menuju Australia, uang yang dijanjikan dilunasi,” ujarnya. (gun/ila/ong)

Breaking News