dewi sarmudyahsari/radar jogja

TEMUKAN DUA BIDANG: Behavior berkomitmen memberikan commission works kepada beberapa seniman untuk dapat dihadirkan ke tengah publik secara luas sebagai produk seni baru.

Kolaborasi Daniel Satyagraha dan Ratna Djuwita dalam Behavior

Seni rupa kontemporer dan fesyen merupakan dua bidang berbeda. Masing-masing memiliki dunia dan dinamikanya sendiri. Melalui Behavior, Daniel Satyagraha dan Ratna Djuwita mempertemukan dua bidang itu sebagai komitmen commission works kepada para seniman yang telah memiliki rekam jejak karya dan prestasi tak hanya di Indonesia, namun menjelajah di negeri lainnya.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
Agan Harahap, Angki Purbandono, Edwin ‘Dolly’ Roseno dan Syagini Ratnawulan merupakan sederet seniman yang nama dan karyanya sering mengisi ruangan galeri berbagai pameran di luar negeri. Sederet nama seniman kontemporer ini mungkin terdengar asing. Tapi jika ditilik lebih jauh rekam jejak prestasinya, beberapa karya mereka sudah sering wira-wiri tampil di berbagai pameran dan galeri, ternama di luar negeri.
Tak dipungkiri, sederet karya dari para seniman tersebut penikmatnya masih terbatas. Hanya mampu dinikmati oleh komunitas seni, namun secara umum belum banyak yang mengenalnya. Berangkat dari hal itu, Behavior berkomitmen untuk memberikan commission works kepada beberapa seniman yang telah memiliki rekam jejak dan prestasi untuk dapat dihadirkan ke tengah publik secara luas sebagai salah satu produk seni yang baru.
“Fesyen medium yang dekat dengan kita dan bisa dimiliki semua orang, maka kita gunakan fesyen untuk membuatnya bertemu, memperkenalkan karya dan nama para seniman ini,” ujar Daniel saat peluncuran brand fesyen Behavior, di Gate Store, Jogja (15/10).
Senirupa kontemporer dan fesyen, menurutnya, sering memunculkan persinggungan. Sehingga memberi peluang untuk beberapa ragam pendekatan artistik, konseptual serta teknik dan mediumnya. Karya seni tak hanya harus terpajang di galeri, tak hanya bisa dinimati hanya beberapa hari, namun karya seni juga bisa lebih dikenal dan mengerti oleh penikmatnya dalam bentuk yang mudah dijangkau. Untuk ini, fesyen jawabannya.
Proses terwujudnya Behavior juga tak terlepas dari kerjasama dengan para seniman itu sendiri. Daniel menyebutkan, parameter para seniman yang turut andil dalam terwujudnya Behavior adalah mereka yang kredibilitasnya memang sudah tidak diragukan lagi baik di kancah senirupa lokal maupun internasional.
“Dari karir mereka memang sudah stabil, saya mulai dari teman-teman sendiri, karena dari segi waktu dan pembahasan konsep lebih mudah, namun ke depan, Behavior akan mengajak beberapa seniman dari Asia, Eropa dan juga Amerika untuk membuat karya pada produk fesyen,” ujar salah satu seniman Jogja yang sudah bergelut di dunia seni rupa kontemporer selama kurang lebih 8 tahun ini.
Untuk koleksi pertama Behavior, empat nama seniman dari Jogja dan Bandung ini mengaplikasikan karyanya dalam bentuk desain t-shirt. Masing-masing seniman memang memiliki karakter sendiri, namun jika digabungkan akan saling berkesinambungan. Karena empat seniman yang diajak berkolaborasi dalam koleksi pertama ini memiliki pola pikir, medium serta level karir yang cenderung sama.
“Koleksi pertama ini ada 12 desain, dan 6 desain merupakan karya saya sendiri,” ujar Daniel yang memproduksi terbatas yakni hanya 24 pieces untuk setiap item desainnya.
Dari setiap item fesyen yang dihadirkan, tak hanya desain, namun di masing-masing produk akan tertera nama, judul karya serta negara kapan karya itu pernah ditampilkan. Konsep dan rekam jejak dari masing-masing seniman pun bisa ditelusuri.
Melalui fesyen, Daniel menambahkan, merupakan cara edukasi kepada masyarakat bagaimana seniman memiliki karya yang sangat mahal. Bukan semata-mata sebuah produk dari brand artist merchandise tiba-tiba nilai ekonominya tinggi. Karena di situ tidak hanya terdapat karya sang seniman, namun juga material, proses dan ilmu pengetahuan yang semua terakumulasi jadi satu dalam bentuk item fesyen.
Jika sebuah t-shirt umumnya dibandrol dengan harga di bawah Rp 200 ribu untuk koleksinya, Behavior membandrol dengan harga di atas Rp 200 ribu. Nilai yang dirasa cukup untuk menghargai sebuah karya, proses, produk dan rasa.
“Untuk produksi, material bahan kita datangkan dari Jepang dengan kualitas super dry, yang tidak mudah mengerut. Sedangkan untuk sablon kita masih gunakan manual tangan,” ujar Ratna.
Pilihan manual sablon, Ratna menjelaskan, tak hanya kualitas hasilnya saja yang membuatnya berbeda. Namun ada nostalgia tersendiri yang dimunculkan dari sablon manual. Ketika dipegang misalnya, hasilnya memang terasa lebih kasar dari hasil digital printing, namun inilah yang akan memunculkan memori akan pembuatannya. Di mana satu warna membutuhkan screen atau cetakan sendiri, sehingga jika ada 20 warna pada desain yang akan disablon, membutuhkan 20 screen dan tahapannya juga menyesuaikan.
“Sebenarnya pengerjaan bisa dikejar dengan menggunakan digital printing, namun ada nostalgia tersendiri yang tidak bisa diwujudkan dengan yang digital,” papar Ratna yang menyebutkan produk Behavior juga telah masuk di beberapa outlet fesyen di Jakarta. (*/laz/ong)

Boks