grafis-penembakan

Korban Didor karena Hina Polri

SLEMAN – Kasus tertembaknya Arif Yuli-anto (AY), 17, remaja asal Dusun Watupecah, Desa Pondokrejo, Kecamatan Tempel, di bagian perut dan tangan Rabu dinihari lalu akhirnya terungkap. Dugaan pelakunya ok-num polisi, ternyata tidak meleset.Polisi pun kini terus mendalami peristiwa pe-nembakan yang dilakukan Bripka EB, 30, terhadap ABG itu
Hasil penyelidikan sementara, aksi koboi yang dilakukan ang-gota Polsek Sleman itu dilan-dasi penghinaan oleh korban terhadap institusi Polri. “Kasus ini ditangani Provost dan Pengamanan Internal (Paminal) Polri,” jelas Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin kemarin (16/10). Selain Bripka EB, Provost dan Paminal memeriksa Brigadir AW, 30 yang menjadi joki saat menge-jar AY. Saat melakukan pengejaran, EB membonceng AW.
Pemeriksaan dilakukan inten-sif untuk memperoleh kepastian hukum terhadap aksi yang dila-kukan dua anggota polsek itu. Tembakan diletuskan karena jiwa aparat terancam atau untuk melumpuhkan tersangka. Jika terbukti tidak profesional atau melanggar prosedur operasional standar dalam penanga-nan kasus, maka keduanya bisa dikenai sanksi disiplin. “Untuk sementara, senjata milik EB dan AW ditarik dulu. Kami juga pe-riksa kondisi psikologis mereka,” katanya.
Ihsan menjelaskan, peristiwa penembakan dipicu oleh tinda-kan AY yang diduga terpengaruh minuman beralkohol. Dari re-kaman CCTV, tampak AY yang membonceng AT mendatangi halaman Mapolsek Sleman.
Menurut Ihsan, AY lantas meng-hardik petugas jaga posko ma-polsek dengan kata-kata kotor. Ucapan bernada menghina itu dinilai melanggar pasal 214 ayat (1) KUHP, subside pasal 207 KUHP subside pasal 212 KUHP. Selain menghina, AY melawan petugas saat akan diperiksa. Kapolres mengklaim, saat pengejaran Bripka EB mengena-kan seragam dinas.
EB juga telah berteriak meminta tersangka berhenti, namun tak digubris. Karena itu EB lantas melakukan tembakan peringatan dua kali tapi tak diindahkan oleh AT. Bahkan AY beberapa kali me-nendang bagian slebor depan sepeda motor yang dikendarai Brigadir AW. Itu mengakibatkan sepeda motor yang dikendarai dua polisi itu oleng dan hampir terjatuh. AY juga mengayun-ayunkan tangan kanannya untuk menyerang.
Kondisi jalan gelap dan kekha-watiran pelaku membawa sen-jata tajam akan membahayakan petugas, memaksa Bripka EB membidikkan pistol ke arah tangan kanan AY. Akibatnya, proyektil mengenai lengan kanan AY dan menembus ke pinggang. “Tembakan dilesakkan dari jarak tujuh meter,” ucapnya. Pe-nembakan terjadi di jalan ling-kungan Dusun Cimpling, Tri-harjo, Sleman
Akibat tembakan mengenai sasaran, AT lantas menghentikan sepeda motornya yang bernomor polisi AB 3860 VY. Mendapati AY terluka, polisi itu lantas mem-bawanya ke RSUP Dr Sardjito. Sementara AT dibawa ke ma-polsek untuk diperiksa. “Soal AY mabuk dibenarkan AT dan pe-tugas medis,” ungkap Ihsan.Kabid Humas Polda DIJ AKBP Anny Pudjiastuti menegaskan, polisi tak mentoleransi setiap bentuk tindak kekerasan. Namun tindakan penegakan tetap me-ngikuti prosedur.
Anny menyayangkan pereda-ran informasi di media sosial yang tidak benar (hoax). Se-perti aksi yang dilakukan dua polisi Polsek Sleman. Menurut Anny, tindakan itu dalam rang-ka penegakan hukum. Itu meng-ingat saat ini sedang marak aksi kekerasan di wilayah Sleman, yng dilakukan oleh kelompok-kelompok remaja.
Sementara itu dari RSUP Dr Sardjito mengkonfirmasi bahwa korban penembakan, Arief Yu-lianto secara umum kondisinya sudah membaik. Korban keluar dari ruang operasi pada Rabu (15/10) sekitar pukul 17.00. Kabag Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Trisno Heru Nugroho mengatakan, meskipun proses operasi berjalan lancar, sesuai intruksi medis bahwa dalam satu minggu ke depan korban harus istirahat total. Hal ini untuk mengantisipasi agar tidak terjadi infeksi terhadap luka korban.
“Secara umum kondisi korban sudah membaik. Namun saya berpesan agar sementara tidak ada yang menjenguk dulu. Itu dikhawatirkan terkena infeksi terhadap lukanya,” kata Heru.Pihaknya mengkonfirmasi se-telah selesai menjalani operasi, Arief dirawat di PICU. Kabar yang diterima, Arief sudah bisa diajak komunikasi. Namun demikian, hal itu masih sebatas hal yang wajar demi mengembalikan kon-disi tubuhnya yang terluka parah.

HS Prihatinkan Maraknya Kekerasan

Tindak kekerasan yang kembali marak di wilayah DIJ mengundang keprihatinan Wali Kota Jogja Har-yadi Suyuti (HS). Meski sebagian besar kasus terjadi di Sleman, Kota Jogja juga terkena imbasnya. Bahkan beberapa waktu lalu #Jog-jaKotaDamai sempat jadi trending topic di dunia maya. “Saya prihatin dengan kasus kekerasan ini, orang dengan mudah melakukan kekerasan pada orang lain yang tidak jelas alasannya,” ujar HS di Balai Ko-ta Timoho, Jogja, kemarin (16/10). Menurut HS, persoalan perbe-daan suku, agama atau kegema-ran, seharusnya tidak perlu sampai menjadi konflik. “Beda se dikit saja gelut, ada apa dengan re maja kita,” lanjutnya.
Untuk mengurangi tindak keke-rasan, dirinya bertekad untuk men-ciptakan suasana kota yang nyaman dan aman. Di antaranya dengan mengedepankan kata kebersama-an dan saling tolong-menolong. HS juga meminta agar antarwarga maupun pendatang bisa saling menghargai. Para agamawan dan intelektual juga diminta untuk menyuarakan kedamaian. Wali kota menegaskan, Kota Jogja menolak kekerasan dalam bentuk apapun.
Seluruh jajaran Pemkot Jogja dan aparat sepakat untuk menolak kekerasan. Menurut HS, kekerasan tidak hanya memiliki dampak sosial saja, tapi juga hukum. Karena itu, ia ber-sama aparat lainnya membangun komitmen sanksi yang tegas dan terukur. “Sanksi menjadi kata kunci dalam penindakan pelaku kekerasan,” ungkapnya.
Tentang para pelaku yang mayoritas merupakan anak muda dan kejadian yang ber-langsung malam hari, HS menga-takan dalam hukum ada aturan jika kejahatan yang dilakukan di malam hari, hukumannya jauh lebih berat dibandingkan keja-hatan pada siang hari. Dengan penerapan sanksi yang tegas, diharapkan dapat membuat efek jera bagi pelakunya.
Selain itu, dirinya juga memin-ta pelaksanaan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) bisa kembali diaktifkan. Pengawasan dari masyarakat bisa dilakukan sejak dari tingkat keluarga, RT dan RW. (yog/ali/pra/laz/ong)

Breaking News