SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA

PENDIDIKAN KEUANGAN: Salah satu edukasi yang digelar OJK mengenai produk dan layanan keuangan dilakukan di hadapan siswa-siswi SMAN 1 Jogja kelas X, kemarin (13/10).

Beri Edukasi Sedini Mungkin

JOGJA – Literasi keuangan ma-syarakat masih rendah. Belum semua masyarakat paham dan terampil menggunakan produk serta layanan keuangan. Melihat itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meletakkan program literasi keuangan sebagai salah satu program prioritas.Direktur Literasi dan Edukasi OJK Agus Sugiarto mengung-kapkan berdasarkan survei lite-rasi keuangan tahun lalu di 20 provinsi terungkap baru 21,8 persen saja masyarakat yang paham literasi keuangan.
Ma-syarakat yang memiliki pema-haman dan keterampilan meng-gunakan produk serta layanan keuangan dengan tingkat utili-sasi sebesar 59,7 persen. Karena itu, OJK sendiri menyasar edu-kasi literasi keuangan mulai dari tingkat paling dini yakni pelajar di sekolah. “Program literasi keuangan di kalangan murid SMA merupakan upaya OJK untuk melakukan edukasi sedini mungkin. Sebab hasil survei nasional menunju-kan hanya 28 persen pelajar atau mahasiswa yang memiliki ting-kat literasi yang baik,” jelas Agus saat melakukan edukasi keuangan di SMAN 1 Jogja, Senin (13/10).
Rendahnya literasi terhadap keuangan hampir di setiap sek-tor. Dia memaparkan saat ini yang melek perbankan baru sekitar 22 persen, sedangkan produk asuransi sebesar 17,4 persen. Selain itu, terhadap pro-duk keuangan lain seperti dana pensiun terbilang kecil karena baru tujuh persen.Bahkan sambungnya, masya-rakat yang baru memiliki penge-lolaan dana pensiun hanya se-kitar dua persen saja. Sedangkan dari empat persen orang Indo-nesia yang melek pasar modal, hanya sekitar 0,5 persennya saja yang membeli produk paa-sar modal.
Menurutnya masyarakat harus paham produk-produk jasa ke-uangan. Sebab bila masyarakat sudah mengerti, maka mereka dapat mengelola keuangan dengan baik. Selain itu, dengan pengetahuan litersi keuangan membuat masyarakat tidak akan terjebak pada produk keuangan yang tidak bertanggungjawab. “Contoh mudahnya adalah bila ada tawaran investasi dengan bunga atau hasil yang diluar ke-wajaran itu harus dipertanyakan. Jika masyarakat paham, maka tidak akan tertipu dengan istilah investasi bodong,” jelasnya.Salah satu edukasi yang dige-lar OJK, seperti yang dilakukan kepada murid SMAN 1 Jogja kelas X.
Sesuai dengan amanat Pasal 28 UU OJK, kegiatan De-wan Komisioner OJK mengajar keuangan merupakan bagian dari tugas OJK. Dimana tujuan-nya memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat ter-kait sektor jasa keuangan, laya-nan dan produknya.Dia menjelaskan program li-terasi keuangan sudah menjadi program pemerintah yang di-luncurkan oleh Presiden RI. Juga telah diluncurkan cetak biru strategi nasonal literasi keuangan Indonesia.
Tujuannya agar peningkatan literasi keu-angan masyarakat berlangsung lebih terstruktur dan sistematis. “Kami juga telah menanda-tangni MoU dengan Kemendik-bud terkait penerbitan buku ekonomi kelas X yang memba-has OJK dan Industri Jasa Keu-angan,” terangnya.Sementra itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DIJ Baskara Aji menyambut baik gerakan edukasi literasi keuangan di sekolah. “Langkah ini bisa mengenalkan sejak dini keter-tarikan murid terhadap keu-angan,” tutupnya. (bhn/ila/jiong)

Bisnis