HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA

GO GREEN: Produk kerajinan dengan bahan alami seperti pelepah pisang justru banyak diminati oleh buyer dari luar negeri seperti Amerika dan Eropa.

Empat Bulan Kirim, Omzet Tembus Rp 1 Miliar

KULONPROGO – Semua produk baik makanan atau kerajinan yang menggunakan bahan dari alam kini semakin dilirik pasar. Melihat peluang itu, para perajin di Kulonprogo mencoba memaksimalkan kreativitasnya. Mereka membuat kerajinan tangan dari pelepah pisang, daun pandan juga kertas daur ulang untuk dibentuk menjadi perkakas rumah tangga. Hasilnya luar biasa, produk kerajinan tangan mereka kini sudah merambah pasar internasional, diekspor ke Amerika dan Eropa.
Perkakas rumah tangga yang bahan bakunya langsung diambil dari alam kini juga semakin diminati. Tak pelak, pelepah pisang, daun pandan, enceng gondok dan daur ulang kertas serta plastik memiliki nilai ekonomi. “Saat ini yang tengah tren dari bahan pelepah pisang, mungkin karena lebih natural ya. Orang Amerika senang dengan produk yang memiliki semangat go green begini,” terang Pemilik Usaha Tio Craft In-donesia Isti Purwaningsih di Dusun Wareng RT 35 RW 12, Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo, kemarin (13/10).Isti menjelaskan, semua produksi merupakan komoditas ekspor. Negara yang memesan 80 persen dari Amerika dan 20 persen sisanya untuk dikirim ke Eropa.
“Kalau bentuk dan modelnya banyak sekali, biasanya kita menyesuaikan permintaan dari buyer. Kali ini kami mendapat pesanan membuat keranjang untuk bathroom,” jelasnya.Ada ratusan perajin yang bekerja untuknya, mereka tersebar di hampir semua wilayah di Kabupaten Kulonprogo. Semua bahan telah disiapkan, para perajin hanya tinggal mengerjakan dengan sistem borongan. “Desain disesuaikan dengan pesanan, kadang saya yang membuatnya ada pula contoh langsung dari buyer,” ungkapnya.Isti mengaku dalam sebulan ia mampu mengirim sebanyak empat kali.
Dalam kurun waktu empat bulan, ia sudah mampu mendapatkan omzet kurang lebih Rp 1 miliar. “Saya sudah mulai menggeluti usaha ini sejak tahun 2000, ya awalnya saya juga seorang perajin seperti pada umumnya warga di sini,” ucapnya.Menurut Isti, untuk keuntungan pasar ekspor tetap dipengaruhi kurs rupiah ter-hadap dolar. Saat musim kemarau seperti ini bahan sulit, biasanya harga naik namun kalau kurs rupiah melemah sama saja.
“Jadi tergantung kurs mata uangnya, kalau pengerjaan ya lebih mudah saat kemarau seperti saat ini. Karena proses pengeringan manual mengandalkan matahari. Kalau untuk pemenuhan pasar kita siap saja berapa banyak pesanannya, kalau keuntungan tetap tergantung kurs rupiah terhadap dolar,” tandasnya. (tom/ila/rg)

Breaking News