MAGELANG – Pengungkapan kasus teror terhadap jurnalis di Kota Magelang menjadi prioritas Kapolres Magelang Kota AKBP Zain Dwi Nugoroho.
Kapolres asal Demak ini ingin menciptakan situasi yang nyaman dan aman pada masyarakat. Adanya kasus-kasus teror seperti itu, ungkap Zain, kepolisian berkomitmen menuntaskan penyelidikan kasus tersebut.
“Kalau harus ada peningkatan, kami akan tingkatkan penyelidikan. Saya kira masyakarat membutuhkan penanganan serius, agar mereka bisa merasa aman dan nyaman tinggal di Kota Magelang,” tegas Zain, kemarin (8/10).
Hingga kini, penyelesaian kasus pelemparan bom molotov di rumah Wartawan Radar Jogja, Frietqi Suryawan alias Demang terus berjalan. Pihak kepolisian masih mengupayakan keterangan saksi dan alat bukti, terkait adanya aktor intelektual di balik kasus tersebut. Informasi sekecil apapun dari masyakarat akan ditampung guna langkah selanjutnya.
“Untuk sementara, baru ada tiga orang pelaku dan sudah disidangkan. Kami akan dalami, apakah ada hubungan vertikal. Misal, orang yang menyuruh untuk melakukan teror ini,” paparnya.
Kepolisian bersiap memproses secara hukum bila ada aktor di balik kasus yang mencoreng citra pers di Kota Magelang tersebut. Memang, sampai saat ini, polisi belum menemukan indikasi yang merujuk dalang dari aksi teror tersebut.
“Sejauh ini masih didalami, ada nggak aktornya. Kalau misalkan ada bukti atau keterangan ya harus (diproses, Red). Sebaliknya, jika tidak ada, harus konsekuen,” imbuhnya.
Ketiga terdakwa pelemparan bom molotov terhadap rumah jurnalis, yakni Choirun Naim, Heri Utama, dan Yordan alias Yoyo sudah menjadi terdakwa di meja pesakitan. Rabu mendatang (15/10), diagendakan bakal digelar sidang tuntutan sebagai pengganti sidang yang sebelumnya ditunda lantaran pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) belum merampungkan naskah tuntutan terhadap terdakwa.
Selain itu, Kapolres baru juga berkomitmen dengan rencana penambahan polsek dari polres wilayah lain. Dalam waktu dekat, mantan Kapolsek Metro Tamansari ini akan berdiskusi dengan kepala daerah dan pihak terkait, membahas rencana tersebut.
Penambahan polsek dari Polres Magelang, sesuai amanat Mabes Polri. Yakni, polres minimal memiliki empat wilayah polsek. Sementara, di wilayah hukum Polres Magelang Kota, baru memiliki tiga polsek. Antara lain, Polsek Magelang Selatan, Tengah, dan Utara.
“Diharapkan dengan penambahan polsek bisa melayani masyarakat secara maksimal. Jadi, sekali lagi, bukan soal caplok mencaplok wilayah lain,” katanya.
Mantan Kanit IV Satuan Industri dan Perdagangan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya ini menambahkan, soal penambahan polsek juga dilakukan di daerah lain. Termasuk Ibu Kota Jakarta yang menambah polres yang tergabung dalam Polda Metro Jaya. Selain itu, proses serupa terjadi di Pekalongan, Cirebon, dan lainnya.
“Bekasi, Depok ikut Jawa Barat. Sedangkan Tangerang ikut Banten. Tetapi pelayanan kepolisian ikut Polda Metro Jaya. Ini hanya berlaku untuk pelayanan pada masyarakatnya saja. Sementara otoritas daerah tidak ditambahkan,” katanya.
Ia meminta pemerintah daerah, yaitu pemkot dan Pemkab Magelang bersinergi terhadap kebijakan yang direncanakan sejak 2012.
“Secepatnya, saya ingin bersilaturahmi dengan Pak Bupati (Magelang) Pak Zaenal dan Pak Wali Kota (Sigit Widyonindito, Red) membahas masalah ini. Semakin cepat semakin baik,” katanya.
Wacana pemekaran Polres Magelang Kota dilontarkan sejak era Kapolres AKBP Tjuk Winarko pada 2012. Wacana itu merupakan tindak lanjut Peraturan Kapolri Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat Polres dan Polsek, serta Surat dari Kapolri Nomor B/2106/VI/2012/srena tertanggal 27 Juni 2012 perihal Penataan Wilayah Hukum Polres dan Status/Tipologi Polsek.
Beberapa alternatif tiga polsek yang akan diambil Polres Magelang Kota. Salah satunya mengacu jarak yang lebih dekat dengan Mapolres Magelang Kota. Antara lain, Polsek Bandongan, Windusari, Secang, dan Grabag. Dengan penambahan itu, koordinasi maupun pantauan bisa dioptimalkan.(dem/hes/jiong)

Breaking News