Usai Pesta Miras Oplosan

MUNGKID – Minuman oplosan kembali memakan korban jiwa. Kali ini, terjadi di Kabupaten Magelang.Sedikitnya tujuh nyawa me layang setelah menenggak minuman keras oplosan tersebut. Mereka merupakan warga dari tiga keca-matan. Yaitu, Salaman, Tempuran, dan Mertoyudan. Diduga kuat, penjual atau bandar miras oplo-san juga ikut meninggal dunia akibat minuman haram tersebut.Mereka meninggal dunia tidak bersamaan. Terhitung dari Minggu (5/10) hingga Selasa dini (7/10), satu per satu para peminum itu meninggal dunia.
Pesta miras oplosan itu terjadi di beberapa lokasi dan dilakukan beberapa kelompok warga se-cara terpisah.Data yang berhasil dikumpul-kan di lapangan menyebutkan, nama-nama korban tersebar di tiga kecamatan. Di antaranya, Heri Hartanto, 24, warga RT 04/ RW 03 Dusun Gorangan Kidul, Desa Kalisalak, Kecamatan Sa-laman. Hermawan warga Dusun Margosari, Desa Krasak, Ke-camatan Salaman. Sawal alias Ismun warga RT 03/RW 08 Dusun Tempursari, Desa Tempurejo, Kecamatan Tempuran
Akhiriawan, 24, warga Curug, Desa Sidoagung, Kecamatan Tempuran.Sementara untuk warga Ke-camatan Mertoyudan, terdiri dari Bambang Irwanto, 37, warga Desa Bondowoso; Susanto, warga Desa Glagah II, Desa Banjarnegoro; Sarjono, 55, war-ga Glagah I, Desa Banjarnegoro. Nama terakhir merupakan ban-dar miras oplosan, di mana para korban meninggal dunia karena mengambil oplosan di tempatnya.Sigit, salah satu korban miras oplosan yang masih selamat mengaku, minuman oplosan itu diminum bersama tujuh rekan-nya di perempatan Brengkel, Kecamatan Salaman. Oplosan dibeli dengan patungan di tempat Sarjono.
“Urunannya, setiap orang ti-dak pasti. Waktu itu saya hanya ikut urunan Rp 10 ribu,” ungkap Sigit, ditemui di rumahnya, kemarin (7/10).Sigit mengaku, dirinya hanya bisa terbaring lemas di rumah-nya pascaminum oplosan pada Sabtu malam (4/10). Ia merasa mual-mual, pusing, dada sakit, dan pandanganya sedikit kabur. Dari tujuh rekannya, satu te-mannya, yaitu Heru Hartanto diketahui meninggal dunia pada Selasa dini hari (7/10).Bersama dengan tujuh rekannya tersebut, ia membeli minuman tiga liter dengan harga per liter Rp 35 ribu. Ia juga membeli dua plastik minuman dengan harga per plastik Rp 12 ribu. Minuman itu mereka campur dengan mi-numan segar Big Cola
“Saya biasa minum dengan campuran sama seperti ini dan habis banyak. Kali ini, minum dari malam Minggu dan malam Senin baru bangun. Untuk me-lihat mata krasa kabur,” papar pria berusia 23 tahun ini.Korban lain yang juga selamat merasakan hal sama. Seperti yang terlihat di Puskesmas Sa-laman I. Para koban miras oplo-san hanya bisa berbaring lemas. Bahkan satu di antara tiga korban yang dirawat di Puskesmas Sa-laman I harus bernafas meng-gunakan bantuan tabung oksigen. Sesekali jari-jari tanganya ter lihat gemetar.Dr Aimatus Sarikah, dokter jaga di Puskesmas Salaman I menjelaskan, ada tiga pasien yang dirawat akibat minum oplosan. Mereka adalah Darori, warga Desa Sidiagung, Kecama-tan Tempuran; Arif Mulyani, warga Desa Rejomulyo, dan Ahmad Frengki, warga Dusun Margosari, Desa Krasak, Ke camatan Salaman.
“Ada salah satu pasien tidak mau mengaku kalau habis minum minuman keras. Karena ada pengakuan dari rekannya, akhir-nya ia mengaku akibat minum. Kini, ada satu pasien yang mau dirujuk ke Rumah Sakit di Magelang,” kata Sarikah.Selain di Puskesmas Salaman I, para korban juga ada yang dirawat di rumahnya masing- masing. Mereka juga ada yang dirawat di rumah sakit di Magelang. Hingga kemarin (7/10), kepo-lisian belum menerima laporan resmi, terkait meninggal dunia para korban oplosan. Namun, petugas Kepolisian Sektor (Pol-sek) Salaman dan Polsek Tem-puran sudah mendatangi korban. “Kami belum mendapat lapo-ran secara resmi. Dari data di lapangan, mereka merupakan korban oplosan yang penjuala-nya ikut meninggal dunia,” kata Kapolsek Salaman AKP Supriyono. (ady/hes/ga)

Breaking News