Adakan Pameran, Siap Fasilitasi Pertemuan Buyer

JOGJA – Uni Emirat Arab (UEA) merupakan salah satu negara kaya penerima hasil kerajinan dari berbagai dunia. Meski begitu ni-lai ekspor dari DIJ ke negara ter-sebut masih terbilang kecil di-bandingkan negara lain.Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dis-perindagkop) DIJ Rahayu Sri Lestari mengungkapkan nilai ekspor DIJ ke UEA khususnya Dubai pada Agustus tahun ini baru mencapai USD 1,62 juta dengan volume 0,62 kilogram. Produk-produk ekspor masih didomi-nasi oleh kerajinan semen, arang batok, kerajinan metal dan tas benang nylon.
“Ekspor DIJ ke UEA masih ter-bilang kecil. Bahkan UEA belum masuk dalam lima besar negara penerima ekspor DIJ,” jelas Ra-hayu disela-sela acara Business Networking Peningkatan Ekspor Pengusaha Jogjakarta Ke UEA dan Rusia di Eastparc Hotel, Selasa (7/10).Guna mendorong pertumbuhan ekspor DIJ ke UEA, pihaknya berupaya meningkatkan perte-muan bisnis antara pemerintah daerah dan pelaku usaha dengan pihak dari negara tujuan ekspor. Langkah yang dilakukan ialah dengan menggelar pameran ke-rajinan di negara tersebut.
“Kami sedang menjajaki dan sudah bertemu dengan Duta Be-sar (Dubes) Indonesia untuk UEA dalam upaya peningkatan kerja sama perdagangan,” terangnya.Sementara itu ditempat yang sama, Dubes Indonesia untuk UEA Salman Al Farisi mengaku bahwa UEA belum banyak di-lirik pengusaha Indonesia. Pa-dahal, Indonesia banyak mengi-rimkan jamaah haji. Begitu pula wisatawan UEA, 70 persen menjadikan Indonesia sebagai sasaran wisata. “Persoalannya kita kurang menge-nalkan diri. Masih kalah dengan Malaysia dan Thailand yang aktif merancang visi perdagangan ke UEA,” jelasnya.
Diungkapkan beberapa produk yang mulai diminati dari DIJ adalah produk keranjinan dan perak. Sedangkan untuk mening-katkan nilai ekspor DIJ, Salman menyatakan siap memfasilitasi Gubernur DIJ Hamengku Bu-wono (HB) X bertemu dengan pihak-pihak yang berkepenting-an daalm urusan perdagangan. Apalagi, menurutnya, Jogjakarta masih memiliki kesamaan dengan UEA dimana raja masih berperan memiliki pengaruh dalam mengambil kebijakan. “Kami siap memfasilitasi bila Sultan ingin bertemu penguasa-penguasa yang ada di UEA untuk mengenalkan produk DIJ kepada mereka,” jelasnya.
Terpisah, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIJ Gonang Djuliastono mengatakan saat ini masih banyak para investor yang tarik ulur menunggu kepemim-pinan baru. “Dengan politik yang stabil maka investor yakin berin-vestasi. Ini akan baik untuk eko-nomi Jogjakarta secara khusus, dan Indonesia secara umum,” jelasnya. (bhn/ila/ty)

Bisnis