DISOKONG DANAIS: Para nara sumber seminar peningkatan kompetensi teater di Jogjakarta, kemarin (7/10). Seminar untuk optimalisasi dana keistimewaan.

Kali Pertama Gelar Seminar Menyoal Sokongan

JOGJA – Untuk kali pertama, Dinas Kebu-dayaan DIJ menyelenggarakan seminar teater, kemarin (7/10). Seminar peningkatan kompetensi teater di Jogjakarta ini, sekaligus untuk optimalisasi dana keistimewaan (danais). Agar kegiatan efektif, Dinas Kebudayaan menggandeng Paguyuban Teater Yogyakarta (PTY).Seminar berlangsung di Hotel Brongto jalan Suryodiningratan Jogjakarta dengan melibatkan para penggiat teater Jogjakarta. Seminar terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, Sumber Penciptaan Teater dengan narasumber Shinta Febriany, Gunawan Maryanto dan Ibed Surgana Yuga. Sedangkan sesi kedua mengambil tema Orientasi Nilai Penciptaan Teater dengan pembicara Radgar Panca Dahana, Lono Simatupang dan Halim HD.
“Seminar ini mengajak para penggawa teater Jogjakarta mendalami manfaat jejaring,” kata Manajer Program Joned Suryatmoko.Menurutnya pelaku teater harus mema-hami aspek merata penyelenggaraan teater. Terlebih saat ini Disbud telah menyokong teater Jogjakarta melalui danais. Melalui PTY, para seniman teater ini ber-gabung untuk memanajemen penerimaan danais. Wujudnya dengan menguatkan infrastuktur melalui seminar, hingga penye-lenggaraan kongres teater. Dalam PTY tergabung sedikitnya 25 kelompok teater modern non kampus dari seluruh DIJ. “Kami harapkan, penyera-pan danais lebih maksimal. Selain itu kita juga mengajak para seniman belajar tata cara birokrasi pemerintahan,” kata Joned.Tugas PTY cukup simpel, namun tetap sistematis. Dimana paguyuban teater modern mewadahi kelompok-kelompok teater di Jogjakarta. Selain kelompok, PTY juga me-wadahi person kreatif yang dilibatkan dalam paguyuban ini.
Joned mencontohkan sosok Landung Simatu-pang dan Indro Tranggono. Meski tidak terga-bung dalam sebuah komunitas, namun person kreatif ini tetap menjadi bagian dari PTY.Sesepuh dunia teater Jogjakarta Butet Kerta-radjasa juga unjuk bicara. Menurutnya, sudah sewajarnya jika pemerintah menanamkan kepedulian. Ini karena Jogjakarta menyandang predikat kota seni dan budaya. “Sehingga dalam pandangannya ragam seni budaya di Jogja-karta harus dibesarkan,” ujarnya.
Butet tidak menampik ada ketidakseimbangan dalam mengangkat seni budaya. Dimana seni budaya tradisi lebih mendapatkan kursi prioritas. Berbeda dengan seni kontemporer maupun modern. “Itulah mengapa seorang kepala dinas harus luas wawasannya, sehingga bisa me-rangkul semua disiplin ilmu seni,” kritiknya. Dirinya berharap agar seniman teater mampu menyerap bantuan pemerintah (danais) secara optimal. Dimana dengan danais ini, akan menyokong pundi-pundi teater Jogjakarta. Di sisi lain, Butet juga berharap agar kepe-dulian pemerintah tetap konsisten dan ber-kelanjutan. Sehingga suasana seni budaya di Jogjakarta benar-benar hidup. “Jogjakarta itu tanah yang subur untuk seni budaya, baik tradisi dan kontemporer. Untuk regenerasi teater saat ini sudah bertumbuh dan dengan adanya danais ini semoga semakin lebih hidup,” harapnya. (dwi/jko/

Breaking News