Mendadak, Susamto Dkk Ajukan Saksi Meringankan

JOGJA – Rencana tim penyidik Kejati DIJ melimpahkan berkas perkara dugaan korupsi penjualan aset tanah UGM ke tahap pra penuntutan, terhambat. Sebab, empat tersangka tiba-tiba mengajukan saksi meringankan.
Para tersangka itu, antara lain Ketua Majelis Guru Besar UGM Susamto Somowiyarjo, Wakil Dekan 3 Fakultas Pertanian Bidang Keuangan, Aset dan SDM Triyanto, Toekidjo, dan Ken Suratiyah.
“Saat pemeriksaan tadi, para tersangka menyatakan akan mengajukan saksi meringankan,” kata Kasi Penkum Kejati DIJ Purwanta Sudarmaji SH, kemarin (7/10).
Atas keinginan para tersangka tersebut, tim penyidik tak bisa berbuat banyak. Mereka langsung menyetujui dan menunda pelimpahan berkas ke jaksa peneliti.
Dengan pengajuan saksi meringankan oleh tersangka, maka dipastikan akan menghambat penyidikan. Sebab, keinginan tersebut terkesan mendadak.
“Itu hak tersanga, dan penyidik wajib memeriksa saksi meringankan yang diajukan para tersangka,” tambah Purwanta.
Namun demikian, Purwanta belum mengetahui saksi meringankan yang diajukan tersangka dari internal UGM atau eksternal UGM. Sebab, sampai saat ini, tersangka belum menyebutkan identitas saksi tersebut. “Kami belum tahu apakah saksi tersebut dari UGM, Pemdes Banguntapan atau BPN (Badan Pertanahan Nasional),” lanjut jaksa asal Imogiri ini.
Purwanta menambahkan, kemarin empat tersangka kembali menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan dimulai pukul 10.00 dan berakhir pukul 12.00 di lantai 3 gedung Kejati DIJ. Materi pemeriksaan untuk klarifikasi harta kekayaan yang dimiliki masing-masing tersangka.
“Jika ada harta kekayaan yang mencurigakan, penyidik akan menanyakan dari mana harta itu berasal,” terang Purwanta.
Terpisah pengacara ke-4 tersangka, Augustinus Hutajulu SH mengatakan, sejak awal, Yayasan Fapertagama adalah pemilik lahan yang sah atas lahan di Plumbon dan Wonocatur, Banguntapan Bantul. Sebagai buktinya, adalah buku letter C yang ada di kelurahan Desa Banguntapan. Hak miliknya adalah milik yayasan, tapi sertifikat diatasnamakan pribadi.
“Itu dilakukan agar hak milik tidak berubah menjadi hak pakai. Tapi sertifikat atas nama pribadi itu berdasar kesepakatan dan disetujui bersama para pengurus,” kilah Augustinus.
Sementara itu salah satu tersangka Susamto mengaku tak keberatan dalam menjalani proses hukum ini. Sebagai warga negara yang taat hukum, dirinya akan berskap kooperatif dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan. “Sebagai warga negara yang baik, arep dikapakke wae manut (mau diapakan saja ikut),” singkat Susamto usai menjalani pemeriksaan kemarin. (mar/jko)

Breaking News