MAGELANG – Relokasi pedagang kaki lima (PKL) yang semula berdagang di Kawasan Pecinan atau Jalan Pemuda ke Pasar Rejowinangun dinilai gagal. Ini bisa dilihat dari tidak ditempatinya lapak di Lantai II Pasar Rejowinangun oleh puluhan pedagang yang direlokasi sejak Mei lalu. Mereka memilih pindah ke tempat lain dan meninggalkan lapak-lapak yang tidak terurus, serta terbengkalai di lantai II sisi barat Pasar Rejowinangun yang baru saja selesai direnovasi
“Banyak yang pindah. Temasuk ketua paguyubannya, Pak Joko Arifin memilih pindah ke Tegal-rejo. Karena di sini (Pasar Rejo-winangun, Red) sepi,” kata Teguh Karya, 45, salah satu PKL, ke-marin (5/10).Menurut Teguh, PKL terpaksa pindah dari tempat relokasi karena omzet menurun tajam. Selain itu, akses menuju ke tem-pat relokaiasi cukup ribet dan harus naik ke lantai 2. Menurut pedagang pigura yang sudah 23 tahun menjalani akti-vitasnya di Pecinan, sebelum direlokasi, mereka mampu mendapatkan omzet sekitar Rp 1,5 juta – Rp 2 juta per hari. Saat ini, tidak ada 10 persennya.
“Dulu sewaktu di Pecinan bisa jual lima boks yang isinya setiap boks ada 99 figura. Sekarang satu boks untuk sebulan, kadang tidak sampai. Sehari menjual satu figura saja, kadang tidak laku,” ungkapnya.Teguh bercerita, saat me nempati kawasan Pecinan, ia sempat memiliki empat karyawan. Kini, ia hanya melakukan aktivitasnya seorang diri. “Terpaksa saya PHK (karyawan, Red), karena buat beri upah mereka tidak ada. Bahkan, sekarang hampir 40 PKL di Pasar Rejowinangun pindah dari sini. Buktinya, lapak-lapaknya ditinggal,” keluhnya.
Melihat kenyataan tersebut, Teguh berharap ada alternatif lain dari Pemkot Magelang untuk mengembalikan geliat per-ekonomian di eks-PKL Pecinan. Ia meminta ada kelonggaran untuk balik lagi ke Pecinan. “Ada usulan supaya PKL bisa jualan lagi ke Pecinan,” katanya.Sementara itu, salah satu pengunjung asal Magersari, Ma-gelang Selatan, Siyani, 45, menga-ku bingung mencari PKL yang ada di Pecinan. Bahkan, ia mengaku sempat bolak-balik, lantaran tidak ada pengumuman yang terpampang di bekas lapak PKL kawasan Pecinan.
“Sempat bingung sih nyari PKL di mana, wong dulu di Pecinan. Enggak tahunya sudah pindah ke pasar. Harusnya ada pem-beritahuan, supaya langganan yang tadinya di Pecinan tidak bingung nyari-nyari,” pintanya.Sebelumnya, Dinas Pengelola Pasar (DPP) Kota Magelang me-nerapkan kebijakan relokasi PKL eks-Pecinan, pada Mei lalu. Sebanyak 225 PKL dari Pecinan dan tambahan dari Jalan Mata-ram direlokasi, sebagai program penataan PKL di Kota Magelang. Kebijakan itu mutlak dilakukan demi menjaga estetika, di samping menaati aturan yang dibuat eksekutif dan legislatif.
“Supaya terlihat rajin dan PKL juga mendapat keuntungan relokasi ini. Karena sifatnya gratis. Padahal dari sisi ekonomi, setiap lapak yang disediakan pemkot, sebenarnya punya nilai ekonomi cukup tinggi,” kata Kasi Pe nataan PKL Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Magelang Y. Marji-nugroho.Dikatakan, kebijakan itu tidak bisa langsung dirasakan positif bagi para PKL. Ia menyadari, program relokasi membutuhkan adaptasi. Baik dari pedagang sendiri maupun konsumennya. “Saya harap PKL mau bersabar,” harapnya. (dem/hes/nn)

Breaking News