grafis-bunuh-diri

Tim Penanggulangan dan Masyarakat Tetap Harus Bekerja Keras

WONOSARI – Tahun ini, Kepolisian Polres Gunungkidul mencatat, belasan orang di wi-layahnya mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 orang nekat gantung diri, sementara dua di antaranya menenggak racun dan terjun ke dalam sumur.Panit Humas Polres Gununkidul Ipda Ngadino mengatakan, penyebab orang nekat mengakhiri hidup bermacam-macam. Namun, paling banyak dikarenakan depresi karena penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh. “Penyebab lain, tekanan ekonomi. Akan tetapi, jumlahnya relatif sedikit dan tidak sebanyak karena putus asa disebabkan penyakit kronis,” kata Ngadiono.
Dia menjelaskan, ke-17 orang yang nekat mengakhiri hidup merupakan data 2014 terhitung mulai Januari hingga awal Oktober. Diakui, sejak beberapa tahun terakhir tren bunuh diri menurun. Pada 2013, sebanyak 29 kasus bunuh diri. “Kasus terbanyak terjadi pada 2012, angka bunuh diri mencapai 40 kasus,” ujarnya.
Kasus terbaru bunuh diri, terjadi pada pada Jumat (3/10). Warga Plarung, Sawahan, Ponjong, Ngatinem, 80, bunuh diri dengan gantung diri. Diduga kuat penyebabnya karena penyakit darah tinggi menahun. Korban gantung diri di pohon talok depan rumah. “Dominasi angka bunuh diri memang usia lanjut,” ujarnya.
Terpisah, Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari Ida Rochmawati mengamini tren bunuh diri di Kota Gaplek ini terus menurun. Dia menjelaskan, penyebab bunuh diri dikarenakan beberapa faktor. Penyebab utamanya adalah tingkat kesehatan jiwa masyarakat masih rendah.
“Bunuh diri masuk dalam fenomena gunung es. Di saat cobaan hidup makin bertambah, membuat segelintir orang menjadi depresi. Sebenarnya, mereka butuh bantuan, namun karena tidak ada yang bisa membantu, nekat bunuh diri,” kata Ida Rochmawati.Menurut dia, kasus bunuh diri tak hanya terjadi di Bumi Handayani. Sebab, daerah-daerah lain juga memiliki potensi sama. Untuk itu pihaknya berharap, langkah penanggulangan bukan hanya tugas dari petugas kesehatan semata. Sebab, antisipasi memerlukan kerja sama lintas sektoral, termasuk di dalamnya peran serta dari masyarakat. “Saat ini sudah terbentuk tim penanggulangan, akan tetap harus bisa bekerja lebih maksimal lagi. Sedang, untuk masyarakat memiliki peran penting karena deteksi dini terhadap peristiwa itu dapat dilihat dari apa yang terjadi di lingkungan masing-masing,” ujarnya. (gun/din/rg)

Breaking News