Akan Diusung pada PBTY 2015

JOGJA – Pameran Wayang China Jawa atau Wacinwa oleh Museum Sonobudoyo mem-buka sebuah tabir. Kesenian yang diciptakan oleh Gan Thwan Sing pada medio tahun 1925 ini kurang dipahami. Dikarenakan rantai pelestarian putus ditengah jalan dan tidak berlanjut.Dalam pameran yang digelar di Jogja Galeri ini memajang ratusan Wacinwa. Semuanya merupakan karya asli dari al-marhum Gan Thwan Sing. “Pameran ini membongkar sebuah sejarah. Dimana mem-butuhkan bantuan masyarakat maupun pemerhati budaya. Khu-susnya dalam penamaan tokoh-tokoh wayang ini,” kata Kepala Museum Sonobudoyo DIJ Riha-ryani baru-baru ini (3/10).
Pameran inipun mendapatkan respon positif dari Jogja Chi-nese Art and Culture Centre (JCACC). Koordinator Kegiatan Seni dan Budaya JCACC Anggi Minarni menilai pameran ini penting. Terlebih pada pelesta-rian budaya Tionghoa di Indo-nesia dan Jogjakarta khususnya.Sebagai pengurus inti, dirinya tidak menampik kesenian ini tidak populer. Terlebih saat diri-nya bertanya pada sesepuh JCACC tentang wayang ini. Di luar du-gaan ternyata semuanya tidak mengenal kesenian ini. Itulah mengapa pameran ini mendapat angin segar dari JCACC. “Rencananya tahun depan Wacinwa kita masukkan dalam agenda Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2015. Jadi kita pentaskan wayangnya dengan lakon Sie Jin Kui. Padahal ini budaya Tionghoa yang telah berakulturasi dengan kesenian Jogjakarta,” kata Anggi.
Anggi menambahkan wayang ini berbeda dengan wayang po-tehi. Jika potehi merupakan kesenian yang tidak berasal dari Jogjakarta. Sedangkan Wa-cinwa merupakan kesenian yang lahir dan besar di Jogjakarta.Selain Wacinwa, rencananya PBTY 2015 juga akan mengha-dirkan sebuah beksan klasik milik Keraton Jogjakarta. Be-ksan klasik ini merupakan wujud akulturasi antara Ti-ongkok dan Jogjakarta pada zaman dahulu. Tercermin dari busana yang digunakan dalam melakoni tarian ini. “Juga menguatkan adanya se-buah prasasti Tiongkok Jawa di dekat Bangsal Trajumas. Ditulis dalam tembang kinanti dalam Jawa dan huruf Tionghoa. Se-bagai wujud kesetiaan dan se-lamat kepada Sultan Keraton Jogjakarta pada waktu itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” ungkapnya.
Anggi berharap dengan adanya pameran ini turut menggugah generasi muda. Terlebih pada pengenalan sejarah awal akul-turasi ini. Dirinya yakin pameran dan konsep PBTY ke depan merupakan wujud kekuatan akulturasi antara Tiongkok dan Jogjakarta. “Di Jogjakarta warga keturunan Tionghoa sudah memasuki ge-nerasi kelima. Sudah menjadi bagian dari Jogjakarta. Nilai inilah yang akan kita jaga dan lestarikan kedepannya,” kata Anggi. (dwi/ila/ty

Breaking News