BANTUL – Seni dan ilmu sains tidak harus bertentangan, tapi bersanding. Kolaborasi ini da-pat menjadikan sebuah kekaya-an dalam hal intelektual budaya. Wamendikbud Bidang Budaya Windu Nuryanti mengatakan hal ini dalam pembukaan Fes-tival Kesenian Indonesia (FKI) 8 di kampus ISI Jogjakarta, ke-marin (26/9).Menurut Windu, dua kekua-tan ini sangatlah penting. Ter-lebih dalam menghadapi era globalisasi saat ini. Kedua ke-kuatan ini dapat menjadi tong-gak dan akar kuat kearifan, di mana selain menangkal juga menjadi kekuatan bagi seluruh elemen bangsa.
“Dapat menjadi sebuah pilar dalam memajukan bangsa. Jika dulu ada stigma pendidikan dan seni tidak bersanding, sebenar-nya tidak. Justru saling mengu-atkan satu sama lain. Untuk ke depan FKI ini semoga bisa di-kemas tahunan, tidak hanya dua tahunan,” harapnya.Festival dua tahunan ini meli-batkan tujuh perguruan tinggi seni di Indonesia. Selain ISI Jog-jakarta sebagai tuan rumah, juga melibatkan ISI Surakarta, ISI Denpasar, ISI Padang Panjang, STSI Bandung, Institut Kesenian Jakarta dan STKW Bandung.
Rektor ISI Jogjakarta Hermien Kusmayati mengungkapkan, FKI telah digagas sejak tahun 1998. Selama penyelenggaraan ini, FKI telah dilaksanakan di kampus partisipan. Kembalinya FKI ke ISI Jogjakarta ini pun dikemas secara khusus, dari segi artistik seni maupun akademik.Memantabkan FKI 8, Spirit of The Future: Art for Humanizing Civila-zation, diangkat menjadi tema. Menurut Hermien, tema ini ber-makna peningkatan keluhuran nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kelu-huran ini terwujud dalam perilaku berkesenian manusia.Ketua Umum FKU 8 Syafruddin mengungkapkan ajang ini meru-pakan pertemuan intelektual seni dan dapat melahirkan se-buah rekomendasi pendidikan seni ke depan. Melihat dinamika, dan melahirkan sebuah solusi atau wacana pendidikan seni.
“Ada seminar yang melibatkan tenaga pengajar. Selain itu juga mengumpulkan guru-guru besar dari ketujuh institusi seni. Peris-tiwa ini tentunya sangat penting, terutama perihal rekomendasi bagi pemerintah,” kata Syafruddin.FKI 8 disambut dengan pawai oleh anggota Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni Indone-sisa (BKS-PTSI). Ketujuh pergu-ruan tinggi ini menampilkan potensi masing-masing. Pawai ini juga melibatkan dua bregada Kraton Jogjakarta, Daeng dan Ketanggung. Ada juga bregada Lombok Abang dari Kadipaten Puro Pakualaman.
Sepanjang jalan pawai, setiap kontingen menunjukkan keah-lian seni mereka. Institut Kese-nian Jakarta (IKJ) menampilkan Lenong Betawi, ISI Denpasar dengan kesenian tari dan musik Baleganjur. Ada Jaran Bodag khas Probolinggo yang dibawakan STKW Bandung.Pawai ditutup dengan kontingen ISI Jogjakarta melalui potensi setiap fakultas. Sebagai pungka-san, tampil Marching Band Sa-raswati ISI Jogjakarta. Kelompok musik ini menampilkan bebera-pa repertoar yang dikemas se-cara apik. (dwi/laz/gp)

Breaking News