JOGJA – Hari Tani Nasional yang jatuh 24 September kemarin diperingati dengan berbagai cara. Di Jogja, mahasiswa UGM menggelar aksi unjuk rasa di Bunderan UGM, sementara di Bantul para petani menggelar sarasehan di Dusun Sirat, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro.
Dalam aksinya, puluhan mahasiswa dari Dewan Mahasiswa Pertanian UGM menuntut pemerintah lebih memperhatikan hak-hak para petani demi kesejahteraan hidup mereka. Selain orasi dan membentangkan aneka poster, para mahasiswa juga menggelar aksi teatrikal.
Mengenakan caping dan membawa cangkul, para mahasiswa ini memerankan petani tradisional yang selalu kalah dengan kepentingan pemerintah yang mendatangkan beras impor. Mereka pun menggambarkan bagaimana penderitaan mereka karena kebijakan yang tidak pro petani dan lain-lain.
Sementara dari Bantul, DPW Serikat Petani Indonesia (SPI) DIJ menilai UU No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani masih seperti macan ompong. Itu lantaran peraturan yang bertujuan memajukan para petani dan dunia pertanian itu masih belum dilengkapi aturan pelaksanaan berupa peraturan pemerintah (PP).
Hal ini disampaikan Ketua DPW SPI DIJ Sukijan, usai menghadiri Sarasehan Memperingati Hari Tani Nasional di Dusun Sirat, Sidomulyo, Bambanglipuro, kemarin (24/9).
“Ya seperti macan kertas selama masih belum ada PP-nya,” tegas Sukijan.
Dengan demikian, berbagai kesulitan sampai saat ini masih menghinggapi para petani. Di antaranya mahalnya harga pupuk, dan belum lengkapnya berbagai sarana pertanian seperti saluran irigasi. “Akhirnya kekeringan tak bisa dihindari saat musim kemarau,” ujarnya.
Sementara di sisi lain, lanjut Sukijan, pemerintah juga belum mampu mengendalikan harga produk pertanian. Mahalnya harga pupuk tak berbanding lurus dengan murahnya harga jual produk pertanian. “Ketika harga bagus, malah pemerintah buru-buru impor,” keluhnya.
Oleh karena itu Sukijan mengaku tak heran jika mayoritas petani masih hidup di bawah garis kemiskinan. Ironisnya, generasi muda tak banyak yang tertarik terjun di dunia pertanian. “Hampir 70 persen petani di Jogja penghasilannya jauh dari layak,” bebernya. (zam/laz)

Breaking News