Ribuan Warga Candibinangun Ikuti Geladi Lapangan Mitigasi Bencana

PAKEM – Ribuan warga Can-dibinangun, Pakem diminta mengungsi di barak-barak pen-gungsian karena aliran lahar dingin di Sungai Boyong meluap. Warga yang tinggal di sempadan sungai harus tinggal semen-tara waktu di barak pengung-sian karena rumah mereka te-rendam lahar.Proses evakuasi membutuhkan waktu cukup lama untuk menga-mankan 6.105 orang ke barak. Tidak ada korban jiwa dalam mu-sibah itu. Langkah cepat dan tangkas para petugas dan relawan mampu mengatasi semua per-soalan. Di barak, para pengungsi pun merasa nyaman. Selain ruang luas, barak disekat untuk memisahkan lansia, anak-anak, dan ibu hamil serta menyu-sui memperoleh ruang khusus. Bahkan, petugas telah menyiap-kan barak untuk ternak.
Tetapi, itu bukanlah kejadian sebenarnya. Tetapi gambaran dalam geladi lapang yang disel-enggarakan oleh Pemdes Candi-binangun, Pakem kemarin (23/9). Kades Candibinangun Sisman-toro mengatakan, geladi dilak-sanakan dalam upaya mendukung program pemerintah menghada-pi bencana lahar dingin, sekali-gus untuk meminimalisasi tim-bulnya korban. Warga Candibinangun perlu memperoleh ilmu mitigasi ben-cana dan geladi lapang lantaran tinggal di kawasan yang teraliri Sungai Boyong. Lahar dingin selalu mengalir di Sungai Boyong setiap kali Gunung Merapi erup-si. “Untuk persiapan. Agar warga tidak kaget menghadapi bencana,” ujarnya.
Bupati Sri Purnomo (SP) meng-apresiasi antusiasme warga da-lam setiap penyelenggaraan geladi lapang. Momentum ter-sebut sangat strategis bagi ma-syarakat Sleman yang berdo-misili di daerah rawan bencana. Atau setidaknya berpotensi ra-wan. “Hal terpenting adalah warga siap siaga dan waspada setiap waktu,” ujarnya.SP mengatakan perlunya penya-daran diri bahwa setiap mitigasi bencana membutuhkan dukungan masyarakat dan tim relawan. “Itu mutlak,” tegas SP.Bupati mendorong masyarakat untuk memiliki skill dan pengeta-huan menghadapi bencana. Dengan geladi lapangan, masya-rakat berperan sebagai subjek, sekaligus objek dan sumber pokok dalam upaya penanganan pen-gurangan risiko bencana.
Upaya tersebut harus berda-sarkan rencana mitigasi yang mengadopsi dan memperhatikan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional yang berkembang di masyarakat. SP menilai, dua aspek tersebut merupakan fac-tor penentu keberhasilan upaya pengurangan resiko bencana. SP berharap warga bisa cepat dalam menentukan langkah tepat untuk antisipasi jatuhnya korban jiwa.Dalam kesempatan tersebut, SP mengukuhkan pengurus Desa Tangguh Bencana Candi-binangun, yang diketuai Sisman-toro. Selain rawan lahar dingin, desa di lereng Gunung Merapi itu berpotensi mengalami puting beliung, tanah longsor, banjir, dan kekeringan. (yog/din/ty)

Breaking News