Polisi Masih Selidiki Keterlibatan Oknum Petugas

SLEMAN – Satuan Resnarkoba Polres Sleman membongkar prak-tik peredaran narkotika ke dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas II A Pakem, Sleman. Modusnya, barang tersebut di-masukkan ke dalam bola tenis kemudian dilempar ke area Lapas di titik tertentu. Di dalam Lapas, pembeli sudah siap-siap mengam-bil barangnya.
Ya, praktik transaksi barang ter-larang ini bukan kali pertama terungkap jajaran Satuan Resnar-koba Polres Sleman. Sebelumnya kasus semacam ini juga terjadi di lokasi yang sama. Polisi men-duga, ada sarana pendukung sehingga para pembeli yang tidak lain adalah warga binaan bisa dengan mudah mendapatkan barang haram tersebut. “Dugaan kami ada semacam sarana yang mendukung praktik transaksi narkotika di dalam Lapas,” kata Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin kepada wartawan kemarin (22/9). Dugaan itu muncul ketika polisi menyita barang bukti sebuah pon-sel yang diduga dipergunakan untuk transaksi jual beli. Temuan itu men-jadi salah satu titik terang penyeli-dikan, bahwa Lapas belum sepenuh-nya bebas dari praktik-praktik keja-hatan dengan berbagai modus.
Dari pengungkapan itu polisi menahan pelaku penyalahgu-naan narkotika jenis ganja dan sabu-sabu. Mereka di antaranya berinisial Np, Dd, Rh, Lcp, serta dua pelaku perempuan berini-sial Pp dan Snd. Mereka masing-masing memiliki tugas yang ber-beda. Ada yang bertugas sebagai pelempar barang, perantara barang, serta memfasilitasi kendaraan. “Kami pisahkan dalam tiga berkas pemeriksaan. Masing-masing pelaku mempunyai peran ber-beda,” tambah kapolres.
Dari sisi penyidikan terhadap pelaku, sejauh ini polisi belum bisa menyimpulkan apakah ada keterlibatan oknum petugas Lapas. Dilihat dari waktu dan polanya, transaksi narkotika ini dilakukan pada waktu siang hari dengan titik lempar yang sama. “Indikasinya, ada yang lempar barang, tentu ada yang membutuhkan. Nah, untuk dugaan keterlibatan orang dalam, itu masih kita dalami,” ujar Kasat Narkoba Polres Sleman, AKP Dhanang Bagus Anggoro. Pelaku yang tertangkap tangan ini, selain sebagai perantara gan-ja, mereka juga menyimpan sabu-sabu cair di tempat tinggalnya. Barang tersebut disita polisi se-telah dilakukan pengembangan.
Dhanang menjelaskan, pihaknya tetap memroses sesuai hukum yang berlaku ketika dalam per-kembangan penyidikan ditemu-kan adanya oknum petugas Lapas yang bermain. Apakah oknum itu sebagai pengguna atau pun hanya sebatas perantara atau fasilitator. “Kalau kami bisa membuktikan secara hukum, tentu akan kami tindaklanjuti,” tegasnya. Dalam kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa ganja sebe-rat 70 gram dan sabu-sabu 200 gram. Selain itu juga disita alat bukti lainnya seperti ponsel yang digunakan untuk proses trans-aksi. Pelaku dijerat pasal 111 ayat 1, 114 ayat 1 UU Narkotika No 35 Tahun 2009.
Menurut pengakuan Np, dia sudah 10 kali melempar barang kedalam Lapas. Itu dilakukan sebelum puasa lalu. Setiap kali melempar ganja, dia mendapat upah Rp 100 ribu. Buruh serabu-tan ini mengakui mengambil barang berupa ganja sesuai alamat yang diperintahkan bandar me-lalui HP nya. “Tugas saya mengam-bil barang di suatu tempat, lalu dibungkus kedalam bola tenis, baru dilempar,” ujarnya. Pria bertato ini menambahkan, dia melempar bola tenis hanya di satu titik saja. Itu dilakukan setelah mendapat SMS dari pe-mesan di dalam Lapas. Sesuai instruksi pemesan, dia selalu melempar barang siang hari di samping Lapas bagian belakang. “Ya, hanya di titik-titik tertentu sesuai pesan yang masuk ke pon-sel saya,” jelasnya. (fid/din/ty)

Breaking News