BANTUL – Kesadaran para tenaga kerja Indonesia (TKI) berwiraswas-ta dinilai masih rendah. Banyaknya uang yang diperoleh para TKI purna tak lantas mendorong mereka untuk membuka usaha sendiri ketika pulang kembali ke kampung. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indone-sia (BNP2TKI) Gatot Abdullah Man-syur saat menghadiri acara Temu Wicara dan Ekspo TKI Purna Tahun 2014 di Lapangan Paseban Bantul kemarin (17/9). “Uang ada, tapi jiwa wiraswasta mereka mungkin harus ditumbuhkan,” terang Gatot.
Gatot berpendapat rendahnya jiwa entrepreneur para TKI juga disebabkan latar belakang pendi-dikan mereka. Apalagi, hampir 50 persen para TKI juga bekerja di sektor informal. “Pendidikan me-reka kebanyakan masih SD dan SMP,” ujarnya.Menurutnya, kondisi ini merupa-kan tantangan bagi pemerintah. Pemerintah harus dapat memajukan para TKI purna melalui program-program pemberdayaan. Sejauh ini, kata Gatot, BNP2TKI telah berusaha memberikan pelatihan kepada para TKI purna. Pelatihan itu meliputi manajemen keuangan, dan kewi-rausahaan. “Kita sudah melatih 29 ribu TKI purna di seluruh Indonesia,” sebutnya.
Hanya saja, pembinaan terhadap TKI purna juga harus melibatkan pemerintah daerah. Pemprov mau-pun pemkab diminta intens mem-berikan pendampingan langsung kepada mereka. “Remitansi (jumlah kiriman uang) TKI di Bantul sen-diri mencapai Rp 74 miliar. Ini juga peluang untuk menggerakkan roda perekonomian,” ungkapnya.Bupati Bantul Sri Surya Widati me-nyadari Bantul merupakan salah satu kantong TKI. Dari situ, pemkab selalu siap memberikan pendam-pingan dan pembinaan terhadap TKI purna. “Banyak sekali usaha yang didirikan oleh para TKI kita. Ada yang produksi keripik, roti, keraji-nan, sampai buka warung bakso,” ungkapnya. (zam/ila/gp)

Breaking News